Galeri Video

[Video][bigposts]

Galeri Foto

[Gallery Foto][twocolumns]

Berita Haji Umrah

[Berita][twocolumns]

Umroh Bersama Do’a Emak Abah


“Labbaika Allahuma Umrotan”, ‘Aku berniat melaksanakan ibadah umroh karena Allah SWT’.

Niat umoh mulai aku ucapkan di atas pesawat Saudi Arabia airlines tepat di atas Yalamlam (tempat miqot bagi jamaah haji/umroh yang datang secara langsung ke makkah). Air mata tak bisa ku bendung, terus menetes membasahi pipi. Rasa syukur dan haru yang ku rasakan bisa kembali datang ke rumah Allah. Tetapi kali ini aku melaksanakan ibdah umroh tidak bersama kedua orang tua ku, melainkan bersama teman – teman Bank Syariah Mandiri (BSM). Sebanyak 321 para pejuang hebat & berpestasi yang mendapatkan apresiasi umroh dari BSM di tahun 2017, yang diberangkatkan melalui travel umroh Sahara Kafila Wisata.

Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka.
Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat hanyalah milik-Mu, juga semua kerajaan, tidak ada sekutu bagi-Mu.

Kalimat talbiyah mulai terdengar di dalam pesawat, yang membuat  air mata semakin tak henti metes menambah keharuan ingin bertamu ke Baitullah. Rasanya tak mungkin bisa kembali ke Baitullah karena diri ini banyaknya dosa. Aku malu kepada Allah yang masih memberi kesempatan mengizinkan ku ke Baitullah. Atas ridho Allah melalui do’a  Emak Abah (panggilan untuk kedua orang tua ku), aku bisa umroh kembali.

Melihat teman-teman ku bisa pergi bersama kedua orang tuanya menambah rasa sedih ku, mengingatkan ku pada Emak Abah. Karena tabungan ku belum mencukupi, aku belum bisa mengajak kedua orang tua ku umroh bersama lagi. Mereka yang berada jauh dari ku tetapi doanya selalu bersama ku. Setelah kembali melaksanakan ibadah umroh bersama Emak Abah di tahun 2015, aku selalu rindu ingin kembali ke Baitullah. Aku selalu berdo’a agar bisa umroh/haji lagi Emak Abah. Setiap ada acara di kantor atau di tempat-tempat lain yang memberikan hadiah umroh, aku selalu berharap bisa mendapatkan hadiah umroh tersebut. Sebelum pergi ke acara, aku selalu menelpon Emak dan minta doanya supaya bisa mendapatkan hadiah umroh. Tetapi Allah memiliki rencara lain, hadiah umroh tersebut tidak diberikan kepada ku. Emak selalu membesarkan hatiku “dicoba lagi yah nak, Emak selalu mendo’akan mu”, ucap Emak kepada ku melalui handphone.
Ketika menerima apresiasi umroh dari BSM, orang yang pertama aku beritahu adalah Emak. Isak tangis yang tak ada hentinya dengan suara terbata-bata aku memberitahukan kepada Emak dan Abah. Alhamdulillah...

Sebelum pergi melaksanakan ibadah umroh melalui handpone, aku berpamitan dengan Emak Abah. Aku meminta agar Emak Abah mendo’akan ibadah umroh ku bersama teman-teman BSM. Aku juga minta diikhlaskan jika tak kembali, karena aku ingin wafat di tanah Harram ‘ucapku kepada Emak Abah’. Emak selalu mendoakan mu nak ‘terdengar suara Emak tersendat-sendat sambil menangis’. “Sejak kamu mengabarkan akan umroh, Emak selalu  bersedekah ke pakir miskin dan dhuafa atas nama kamu, nak. Emak meminta kepada mereka untuk mendo’akan kamu agar sehat dalam melaksanaan umroh dan kamu diberikan kemudahan, kelancaran serta teman-teman mu baik kepada mu. Kamu dan rombongan sehat dan selamat sampai kembali”. Apa yang diucapkan oleh Emak selalu terngiang di telingaku yang membuat air mata selalu menetes membasahi pipi. Aku merasa mata ku semakin kecil (sembab) karena mulai dari manasik, bandara sampai tiba Mekkah dan Madinah melaksanakan rangkaian ibadah umroh, aku tak bisa membendung air mata melihat Kebesaran llahi dan Kekuatan Do’a Kedua Orang Tua ku, sangat dahsyat aku rasakan.

Setelah kurang lebih sembilan jam lama perjalanan udara dari Indonesia – Jeddah, Alhamdulillah kami rombongan umroh BSM tiba di bandara King Abdul Aziz jeddah pukul 01.00 waktu Arab Saudi. Jika mengikuti pergantian musim di Arab Saudi, maka pelaksanaan ibadah umroh kami masuk pada musim dingin (5 – 13 November 2017). Suhu udara pada musim dingin di Mekkah dan Madinah bisa mencapai dibawah 0 derajat. Seperti yang aku alami pada umroh pertama ku, hawa dingin terasa sampai ke tulang. Padatnya aktivitas ibadah umroh bisa membuat kondisi tubuh lemah.  Tetapi Alhamdulillah... Allah berkehendak lain, kami tiba di Jeddah dengan suhu udara yang bersahabat dengan kami. Suhu udara seperti halnya di Jakarta, kekhawatiran pertama ku terlewati. Tak jemu-jemunya aku mengucapkan Alhamdulillah. Sepanjang perjalanan aku selalu berzikir mengingat Allah agar proses ibadah umroh kami diridhoi Allah. Alhamdulilah proses imigrasi di bandara King Abdul Aziz, Allah mudahkan tidak ada permasalahan dan proses bagasi juga lancar, tidak terlalu lama kami sudah bisa melanjutkan perjalanan ke Mekkah.

Alhamdulillah,,, sampai di kota Mekkah kami masih bisa melaksanakan ibadah shubuh berjamaah di masjidil haram. Aku pergi sendiri berjalan menuju masjidil haram untuk melakukan sholat shubuh berjamaah, sambil berzikir aku langkahkan kaki ku memasuki masjidil haram. Teringat umroh pertama ku bersama Emak Abah, mereka selalu berada di samping kanan dan kiri ku. Tangan ku tak pernah lepas memegang tangan Emak Abah, tetapi kali ini aku harus pergi sendiri berjalan menuju masjidil haram yang sudah ramai dipenuhi jamaah dari seluruh belahan dunia, rasanya sudah tak mungkin bisa masuk ke dalam masjid untuk melakukan sholat shubuh di dalamnya. Banyak jamaah yang sudah mengelar sajadah di pelataran luar masjidil haram, dengan bismillah aku berdo’a dalam hati “Yakin pasti bisa masuk ke dalam masjidil Haram untuk sholat shubuh berjamaah di depan ka’bah”. Melalui pintu Al Fath aku memasuki masjidil haram, Alhamdulillah,,, Allah mudahkan aku memasuki masjidil haram, dari kejauhan aku melihat Ka’bah berdiri kokoh. Kiswah hitamnya seakan menarik ku untuk mendekatiknya, sambil berdoa melihat Ka’bah dan air mata ku menetes membasahi pipi. Rindu yang selama ini aku pendam terobati juga dengan melihatnya dari kejauhan, sambil berjalan mengikuti arus aku bisa mengililingi Ka’bah hingga aku bisa membentangkan sajadah ku untuk sholat di pelataran depan Ka’bah.

Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, innal hamda wanni’mata laka wal mulka laa syariika laka.

Kalimat talbiyah ku ucapkan berkali-kali, tanpa henti air mata mengalir deras dari mataku langsung aku tunaikan sholat tahyatul masjid sambil menatap ka’bah. Sujud syukur bisa kembali lagi ke baitullah. Di depan ka’bah aku memohon ampun dan ku panjatkan doa untuk kedua orang tua ku dan BSM. Titipan-titipan doa dari saudara & teman-teman langsung kupanjatkan saat ini juga di depan Ka’bah. Tak lama adzan shubuh berkumandang, aku sangat menikmati suasana shubuh pertama di masjidil haram dan berada persisi di depan ka’bah.

Setelah sholat shubuh kami melakukan rangkaian ibadah umroh pertama. Pelaksanaan ibadah umroh kami bersamaan dengan keputusan kerajaan Arab Saudi untuk merenovasi sumur zam-zam, sehingga terjadi penyempitan di mataf (tempat tawaf) jamah umroh/haji. Tour Leader & muthowif sepakat untuk melakukan tawaf di mataf lantai 2 untuk menghindari saling desak-desakan saat melakukan tawaf. Subhanallah... tawaf di mataf lantai 2 dengan 7 kali putaran bisa berapa kali lipat tawaf di mataf lantai 1. Masyallah,, aku merasakan telapak kaki terasa sangat sakit dan pedih, walaupun sudah menggunakan kaos kaki. Bagaimana dengan yang dirasakan jamaah laki-laki tanpa alas kaki. Allahu Akbar..

Pengalaman sholat shubuh pertama ku dan umroh wajib, memberanikan diri ku untuk memberikan masukan kepada Tour Leader & Muthowif untuk pelaksanaan tawaf umroh sunnah dilakukan di mataf lantai 1. Kepada Ustad Sulhan aku yakinkan bahwa rombongan umroh bisa tawaf di mataf lantai 1. Ustad Sulhan bilang “ kita coba dulu yah Mbak, tapi kalau tidak bisa mau tidak mau kita tawaf di mataf lantai 2 lagi”. Dari hotel ke masjidil haram ku perbanyak zikir dan berdo’a kepada Allah SWT agar Allah mudahkan kami memasuki masjidil haram dan bisa tawaf di mataf lantai 1. Pintu khusus untuk jamaah bisa tawaf di lantai 1 di jaga ketat oleh askar dan diberlakukan sistem buka tutup untuk menghindari kepadatan jamaah umroh yang tawaf di mataf lantai 1. Perlahan kami sudah mendekati pintu tersebut, aku selalu berjalan di dekat ustad sulhan di barisan depan. Ustad Sulhan bicara kepada ku ‘sepertinya gak bisa Mbak’ dengan muka pesimis. Aku yakinkan ustad Sulhan “Bismilah ustad pasti bisa”. Allahu Akbar,,,,  Allah tunjukan kebesaran NYA pintu tersebut dibuka oleh askar. Ustad Sulhan bilang “Mbak,, Alhamdulillah pintunya dibuka”. Alhamdulillah.. Ya Allah mata ku mulai berkaca-kaca dan mulai bulir-bulir air mata ku jatuh ke pipi. Seakan tak percaya, tapi Allah berkehendak lain Allah tampakan kebesarannya. ‘Ayooo,,, cepat-cepat kita masuk, ‘ pinta ustad Sulhan kepada kami. Bergegas kami memasuki masjidil haram, setelah kami masuk semua,,,, askar tiba-tiba langsung menutup pintu tersebut. Allahu Akbar...

Ketika melakukan tawaf wada’, hal yang sama aku rasakan melihat kebesarahan Ilahi. Pintu memasuki mataf lantai 1 selalu dijaga ketar oleh askar dan sistem buka tutup tetap berlaku. Adanya ketentuan baru bahwa hanya yang menggunakan ihram yang bisa masuk mataf lantai 1, artinya khusus hanya bagi jamah yang ingin melaksanakan umroh saja yang bisa masuk. Bagi jamaah wanita, ketentuan tersebut tidak ada masalah karena pakaian ihram kami adalah pakaian yang kami gunakan menutup aurat dan longgar (tidak terlihat lekuk tubuh). Tetapi bagi jamaah pria, pakaian ihramnya adalah kain ihram khusus yang terdiri dari 2 lembar kain. Sehingga jamaah umroh pria tidak bisa masuk kalau tidak menggunakan kain ihram. Jamaah pria kami juga tidak mengunakan kain ihram untuk mengelabuhi askar berpura-pura akan melaksanakan umroh, tetapi menggunakan pakaian biasa. Disinilah kebesarah Ilahi aku lihat kembali, sambil berzikir dan berdoa dalam hati aku minta agar  “Allah mudahkan kami serombongan bisa tawaf wada’ di mataf lantai 1”. Kami menunggu di depan pintu masuk yang masih tertutup, tak lama pintu dibuka dan Allahu Akbar... kami semua bisa masuk tanpa ada pengecualian jamaah umroh pria yang tidak menggunakan kain ihram pun bisa masuk. Hanya berapa menit askar menutup pintu lagi, seolah-olah Allah memerintahkan malaikat-malaikat NYA untuk membantu rombongan umroh kami memasuki Baitullah.

Banyak kemudahan dan kelancaran yang aku rasakan selama melaksanakan ibadah umroh hingga kami pulang ke Indonesia.

Alhamdulillah,, aku dengan teman-teman satu kamar ku selalu bisa melakukan sholat sunah dan wajib persis di depan ka’bah. Allah mudahkan kami bisa melakukan tawaf sebelum maupun sesudah sholat. Alhamdulillah juga Allah berikan kemudahan dan mengizinkan kami bisa menciup hajar aswad, sholat di hijir ismail, berdoa di depan multazam. Bukan kami yang hebat, tapi karena Allah memudahkan urusan kami.

Maha dahsyatnya do’a kedua orang tua ku,,,
Do’a Emak Abah,,,  mengatarkan ku ke Baitullah.
Do’a Emak Abah,,,  memudahkan ibadah umroh ku.      

Nini Hasmalini – Human Capital Policy
Bank Syariah Mandiri Pusat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar