Galeri Video

[Video][bigposts]

Galeri Foto

[Gallery Foto][twocolumns]

Berita Haji Umrah

[Berita][twocolumns]

Selaksa Rindu (2)


Oleh : Febi Rahmi (Jamaah Sahara Kafila - Apresiasi Umrah BSM 2017 - Batch 2)


Pesona Nabawi
Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa'alaa 'aalii sayyidina Muhammad.
Hujan menyapa saat kami memasuki Madinah. Musim dingin mulai datang. Samar-samar terdengar suara muthawwif memberikan informasi. Membuka dan menyegarkan mata yang masih berat setelah perjalanan Mekkah - Madinah kurang lebih delapan jam dengan menatap keluar jendela bis yang basah oleh hujan. Disinilah 15 abad yang lalu manusia agung, kekasih Allah memulai peradaban Islam, mengirimkan cahaya Islam ke seluruh penjuru dunia. Madinah Al Munawwarah.
Udara dingin seketika menyergap saat kami turun dari bis. Mengapitkan kedua tangan dan merapat bersama jama'ah lain kami menuju Masjid Nabawi masjid yang memiliki banyak keutamaan. Tempat suci umat yang kedua sesudah Masjidil Haram.
Ada rasa damai saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri yang sekaligus menjadi tempat beristirahat terakhir Rasulullah Muhammad SAW.
Maasya Allah,
Payung-payung putih di halaman masjid, ornamen masjid dan pencahayaan disekitar masjid Nabawi ini mengusir rasa dingin rasa lelah dengan langkah-langkah kaki yang bersegera ingin ke dalam masjid Nabawi.
Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di lantai di depan pintu masjid, karena area akhwat sudah ditutup dan kami baru bisa masuk esok dini hari. Maasya Allah, wal hamdullillah. Ingin segera hari berganti agar bisa masuk ke dalam masjid dan menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW.
Sebelum waktu shubuh datang pelataran masjid Nabawi sudah ramai. Dingin tidak menjadi halangan bagi jama'ah untuk mengejar kemuliaan dan keutamaan beribadah di Masjid Nabawi.
Maasya Allah inilah masjid yang pada awalnya adalah tempat penjemuran buah kurma milik anak yatim dua bersaudara Sahl dan Suhail bin ‘Amr, dimana unta Rasulullah memilih berhenti disini.
Terbayang bahwa inilah masjid yang pada awalnya terbuat dari batu bata, beratapkan pelepah kurma.
Inilah masjid, dimana baginda Rasulullah ikut turun langsung membangunnya dengan para shahabat dan kaum muslimin Muhajirin & Anshar.
Masjid yang pada awalnya hanya berukuran 50 x 50 m dengan tembok di keempat sisi masjid ini terbuat dari batu bata dan tanah dengan tiang-tiang penopangnya dari batang kurma. Dan saat ini maasya Allah, pilar-pilar masjid dan arsitektur Masjid Nabawi menambah keagungan masjid ini. Dan Allahu Akbar ribuan jama'ah selalu meramaikan masjid ini.
"Bismillah wasshalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah, allahummaghfirliy dzunuubi waftahlii abwaaba rahmatik”.
Ada getar rindu saat kaki ini masuk ke dalam masjid, saat kaki bersentuhan dengan karpet tebal di dalam masjid, maasya Allah wal hamdulillah luluh lantak kaki ini, haru yang tak terbendung dan sujud yang terisak. Allahu rabbi.
Wangi Masjid Nabawi yang khas, suara burung yang bersahut-sahutan, wajah-wajah bahagia, tenang dan menyejukkan.
Tibalah waktu kami akan ke sebuah tempat yang amat sangat dirindukan. Tempat Rasulullah dimakamkan dan taman-taman surga berada;
Raudhah.
Rasulullah bersabda:
'Antara mimbarku dan rumahku merupakan taman dari taman-taman syurga” (HR. Al Bukhari & Muslim).
Ada perasaan yang sukar dijelaskan saat saya mengikuti pembimbing menuju gate 25 pintu menuju Raudhah. Rindu, cinta, bahagia, sedih.
Kami sampai di pelataran sebelum masuk ke Raudhah, saat melihat kubah hijau ya Allah..dibawah kubah ini makam Rasulullah. Bersebelahan dengan makam Rasulullah, terdapat makam Abu Bakar Ash Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA. Memejamkan mata sejenak, membaca shalawat dan air mata ini sudah tidak terbendung lagi.
Sebuah perasaan haru saat masuk melihat tiang- tiang berwarna emas yang tadinya adalah rumah Rasulullah beserta keluarganya. "Jama'ah kita sudah di karpet hijau, ini sudah Raudhah". Assalaamu'alaika yaa Rasulullah.. Maasya Allah, seperti anak kecil menangis, berdoa meluapkan kerinduan dan kecintaan Kk(kepada baginda Rasulullah. Terbayang saat di dekat makam Rasulullah adalah perjuangan beliau untuk Islam, kesederhanaan, kesabaran dan kasih sayang yang selalu ada untuk kita umatnya bahkan didetik-detik menjelang Rasulullah wafat.
Demikianlah hari-hari yang indah, hati yang tenang dan rasa damai selama berada di Madinah khususnya di dalam masjid Nabawi. Sebuah perasaan rindu untuk selalu ingin kembali ke sana.
Dan dengan menulis ini adalah cara saya mengobati rindu akan Madinah, membuka memori saat disana dan berharap Allah jaga ketenangan dan kedamaian ini, Allah istiqamahkan ibadah kami, jadikan kami pribadi yang lebih baik sebagai anak, istri, suami dan sebagai insan BSM. Sampai nanti Allah pantaskan kami kembali menjadi tamu Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar