Galeri Video

[Video][bigposts]

Galeri Foto

[Gallery Foto][twocolumns]

Berita Haji Umrah

[Berita][twocolumns]

Mengelabui Di Jalan Tuhan



Oleh : Firman Jatnika (Jamaah Umrah Sahara Kafila - Apresiasi Umrah BSM 2017 Batch 1)

Hari itu adalah malam terakhir kami di Mekah setelah selesai menjalankan umrah. Esoknya kami harus ke kota madinah untuk mengunjungi makam Rasulullah.
Sebelum meninggalkan kota makah, para penziarah disunahkan untuk melaksanakan tawaf wada' atau tawaf perpisahan.
Masalahnya karena pelataran kabah sedang direnovasi untuk perbaikan infrastruktur sumur zamzam maka otoritas masjidil haram lewat askar membatasi jamaah yang tawaf di pelataran (lantai 1) kabah.
Jamaah yang boleh tawaf hanya mereka yang mengenakan ihram sebagai tanda sedang umrah dan itupun jumlahnya dibatasi.
Sewaktu hari pertama kami datang umrah karena bertepatan dengan ramainya jamaah kami harus tawaf di lantai dua dan menempuh jarak lebih dari 1 kilometer untuk tawaf.
Jadi untuk menyelesaikan ritual umrah di masjidil haram kami harus menempuh >10,5 km berjalan kaki untuk tawaf dan saii.
Hal itulah yang membuat bayangan tawaf wada' menjadi hal mengkhawatirkan.
Saya memeriksa kondisi telapak kaki yang tidak lagi bersahabat.
Saya lihat telapak kaki saya merah membengkak. Setiap kali menapak di lantai tanpa alas kaki rasanya begitu menyakitkan.
Kebiasaan buruk untuk tidak berolah raga dan senantiasa memakai sepatu membuat perjalanan tawaf sebelumnya menjadi lebih berat dibandingkan perjalanan lima tahun lalu.
Mungkin ini cara telapak kaki ini menangis karena harus menopang tubuh yang semakin membengkak ini
Apalagi waktu umrah pertama harus kami lakukan di lantai atas
Ini tentu saja ujian berat buat jamaah dengan kondisi seperti saya.
Saat kembali dari masjid kami bertemu dengan rekan saya yang masih mengenakan pakaian ihram.
"Mau ke mana kamu masih pakai ihram, kan kita sudah selesai umrah tadi. Kok kamu masih pakai baju ihramnya," tanya saya.
"Ooh ini saya mau tawaf yang saya niatkan untuk anak saya," katanya.
"Saya pakai ihram supaya boleh tawaf di lantai satu", jelasnya.
"Berarti kamu berbohong di jalan Tuhan", kata saya.
"Saya tidak mengelabui Tuhan, saya mengelabui askar supaya bisa tawaf di lantai satu", jawabnya.
"Terserah padamu saja", kata saya.
Tentu saja 'akal bulus' dan taktik kawan saya itu terlalu menarik untuk tidak diikuti dan menjadi pembicaraan di sebagian anggota jamaah.
Beberapa orang menghubungi penyenggara umrah untuk menggunakan 'taktik dan strategi menyamar' ini.
Sampai di kamar, kemudian saya berfikir dan merenungkan kebenaran 'taktik dan strategi' tersebut.
Godaan tawaran itu sangat menarik jika dibandingkan bayangan jauhnya jarak yang harus ditempuh dengan telapak kaki yang kesakitan.
Namun saya berfikir bahwa 'reasoning' seperti inilah yang mungkin ada di benak para pelaku fraud dan kejahatan mereka yang bergerak di jalan Tuhan.
Bahwa taktik atau 'kebohongan' atau 'tipuan kecil', apa-apa yang mereka lakukan terhadap aparat/ketentuan adalah sah karena mereka memiliki tujuan-tujuan mulia dan ada di jalan Tuhan itu sendiri.
Lalu saya berfikir, bagaimana jika itu berarti merampas hak mereka yang berhak.
Bagaimana jika ada rombongan jamaah umrah yang benar-benar memerlukan, orang tua, anak-anak, perempuan, atau mereka yang sakit yang semustinya bisa tawaf di lantai satu.
Bukankah keikhlasan diukur dari niat, cara dan hasil dari setiap usaha manusia?
Akhirnya sebagai kepala rombongan batch 1 BSM saya menyampaikan pesan kepada provider kami -Sahara Kafila- agar tetap konsisten. Biarlah pakai seragam rombongan BSM-Sahara Kafila apapun konsekuensinya.
Pihak penyelenggara umrah-sahara kafila bersepakat dengan kami.
Hari itu, Bismillah kami seluruh anggota rombongan berangkat tawaf wada' dengan berseragam baju koko putih.
Di hari itu juga, Allah Taala membalas doa-doa kami dan menunjukkan buah dari konsistensi dan keikhlasan.
Tanpa hambatan, seluruh jamaah BSM-sahara kafila batch 1 semuanya diijinkan masuk ke pelataran kabah di lantai 1.
Jamaah yang sedang tawaf di pelataran tiba-tiba menyurut sehingga kami yang lebih dari seratus orang dipersilahkan masuk ke areal tawaf sekitar kabah.
Askar yang semula menutup jalur masuk membuka pagar betis dan meminta kami bergegas.
Alhamdulillah,
Subhanallah
Allahu Akbar
Bukanlah Allah SWT tidak pernah mengingkari janjinya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar