Galeri Video

[Video][bigposts]

Galeri Foto

[Gallery Foto][twocolumns]

Berita Haji Umrah

[Berita][twocolumns]

GETARAN K. ABDUL AZIZ GATE

Oleh : Edi Dwi Efendi (Jamaah Sahara Kafila - Apresiasi Umrah BSM 2017 - Batch 2)

Pintu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan sebagai tempat untuk masuk dan keluar. Ada pintu rumah, pintu mobil, pintu gudang, pintu kantor, pintu stadion, pintu air bahkan pintu hati. Surga dan nerakapun, juga mempunyai pintu. Entah, sudah berapa ribu kali kita bolak balik, keluar masuk pintu. Mungkin telah puluhan ribu, atau bahkan ratusan ribu kali kita berurusan dengan pintu. Tetapi bagiku, tak ada pintu yang ‘semenggetarkan’ pintu ini. Pintu King Abdul Aziz (K. Abdul Aziz Gate).
Pintu utama - dan karenanya diberi nomor 1 - Masjidil Haram ini sangat megah. Bahkan, kemegahannya tak lenyap oleh Makkah Royal Clock Tower (Zam-zam Tower) yang menjulang tinggi dengan ‘jam’ di puncak gedung, tepat dihadapannya. Dengan pelataran yang luas di depannya, pantas kalau pintu ini menjadi pintu yang paling sibuk di antara ratusan pintu lainnya yang tersedia.
Setiap waktu sholat tiba, tidak gampang untuk bisa mengakses bagian dalam masjid melalui pintu ini. Barisan askar (satuan pengamanan) sudah memblokade pintu sekitar 45 menit sebelum waktu sholat tiba. Akibatnya, ribuan jamaah yang tidak bisa masuk ke dalam masjid, membentuk shaf-shaf sholat di pelataran antara King Abdul Aziz Gate dengan Zam-zam Tower. Tetapi, jangan khawatir, beberapa saat sebelumnya, pelataran ini dengan cepat sudah dibersihkan (dipel) supaya bisa dibuat sholat. Melihat jumlah jamaah yang terpaksa harus sholat di luar masjid, sungguh menakjubkan!
Kembali ke pintu utama, aku bersama rombongan pegawai BSM penerima apresiasi umrah batch 2, berdiri tepat di depan pintu pada tengah malam, setelah menempuh perjalanan panjang Jakarta-Jeddah - Mekah. Dengan berpakaian ihram, seraya melantunkan talbiyah, kami bersiap memasuki bagian dalam masjid paling suci di bumi ini. Untuk kerapian, juga sedikit memberikan tuntunan, muthawwif (muthawwif berasal dari kata thawab - berkeliling, tugasnya berkeliling memandu perjalanan) meminta kami berbaris rapi di depan pintu. Sami’na wa atho’na, kami mendengar dan kami taat, sebagaimana pesan pada waktu manasik umrah di Jakarta.
Sejurus kemudian, tak tahan mata ini untuk menatap ke depan, mencari celah pandangan di antara bahu dan kepala teman agar bisa mengakses masjid bagian dalam. Subhanallah, batu kotak hitam itu begitu nyata dihadapan. Ka’bah Al-Musyarrafah! Biarpun belum berdekatan, dada ini telah tergetar. Tak butuh waktu lama, air mata membutir, mengalir! Itu dia rumah Tuhan. Itu dia asal mula kehidupan. Itu dia Al-Baitul Haram yang dibangun malaikat, Adam, Syits bin Adam, Ibrahim, ‘Amaliqah, Jurhum dan yang lain. Itu dia, kiblatku dalam shalat selama ini. Itu dia, itu dia, itu dia.....yang lain!
Lalu, terlantun dengan takzim dari bibir kami (aku dan rombongan);
اَللّٰهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ دَارَالسَّلَامَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ يَا ذَاالْجَلَالِ وَاْلإِكْرَامِ. اَللّٰهُمَّ افْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَمَغْفِرَتِكَ وَأَدْخِلْنِيْ فِيْهَا. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى رَسُوْلِ اللهِ
Lalu muthawwif memandu kami, untuk mengakses bagian dalam masjid ketika waktu dalam hitungan Masehi telah bertukar hari. Kulalui pintu itu untuk meraih pintu yang dijanjikanNya kelak.
Jember, 29/11/17
Salam untuk Pak Fanny Fansyuri & bro A Faizal Martadisastra, yg setia menjadikan sebuah tiang kipas angin di depan pintu utama sbg meeting point.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar