Galeri Video

[Video][bigposts]

Galeri Foto

[Gallery Foto][twocolumns]

Berita Haji Umrah

[Berita][twocolumns]

UMRAH MEREKA


Oleh : Edi Dwi Efendi
(Jamaah Umrah Sahara Kafila Apresiasi Umrah BSM 2017 Batch 2)

Hari ini, beberapa kali, kusaksikan wajah bahagia banyak sahabatku yang sedang berumrah.  Dari kejauhan, via gambar dan tulisan yang mereka upload di medsos, tak tampak rasa lelah karena penerbangan panjang membelah langit di atas lautan India, Srilanka, Yaman / Oman dan baru mendarat di Saudi Arabia setelah hari malam.  Bahkan, kata seorang teman yang ikut dalam rombongan, untuk proses imigrasi saja, waktu yang dibutuhkan tak kurang dari tiga jam.  Tetapi, tak mengapa, inilah perjalanan menuju Tuhan!

Setelah demikian dekat mereka dengan (rumah) Tuhan mereka, nampak berbagai macam cara untuk mengekspresikan.  Banyak dari mereka yang bisa mengungkapkan perasaan dengan kata-kata.  Tetapi, aku lebih yakin, banyak dari mereka yang tak kuasa mengungkapkan rasa; syukur, cinta, dan juga ‘plong’ mereka, setelah mereka dapat; berthawab, menjalankan shalat, bersujud dan juga berdialog dengan Tuhan dalam jarak hitungan depa dari batu berbentuk kubus hitam (Kabah). Kini, mereka bisa sholat dengan arah kiblat yang presisi dengan ganjaran  100 ribu kali dibanding  sholat di tempat lain.

Gambar mereka, dan juga tulisan mereka yang bersliweran di dunia maya, menurutku, jangan mudah divonis sebagai riya’.  Barangkali, itu semua adalah ekspresi bentuk kesyukuran mereka.  Kalau riya’ secara istilah dapat dimaknai sebagai ‘melakukan ibadah dengan niat supaya dipuji manusia, dan tidak berniat untuk beribadah kepada Allah SWT.’, mungkin moment ini tidaklah terlalu tepat untuk disebut sebagai unjuk ketaqwaan, apalagi ‘kemampuan’.

Aku menjadi saksi, bagaimana umrah apresiasi ini, dan juga umrah-umrah lainnya, menampakkan wajah Islam yang egaliter.  Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa semua orang diperlakukan sama di mata Tuhan.  Hajar Aswaj yang menjadi ‘buruan’, multazam yang menjadi spot memanjatkan doa paling diperebutkan, hijir Ismail yang setiap orang ingin sholat di dalamnya, dan juga Raudhah di Masjid Nabawi yang untuk sekedar masuk kita harus berdesak-desakan mengantri, menjadi milik semua orang.  Tak peduli, ketika di korporasi seseorang berkedudukan sebagai direksi atau abdi.

Hingga beberapa hari kedepan, mereka akan punya kemewahan berkhalwat (dalam ramainya manusia) dengan Tuhan mereka di bangunan yang mulia, penuh kekudusan ini.  Mereka menjadi tamu Allah, yang dapat menikmati berbagai hidangan rohani yang tersaji di tempat yang paling dirindukan oleh 1,7 milyar muslim di dunia ini.

Kepada sahabat-sahabatku di tanah suci, nikmatilah jamuan Allah, sepuas-puasmu.  Engkau beruntung, diperjalankan Tuhan-mu melalui sajadah panjangmu (BSM). Engkau beruntung, sepanjang perjalananmu, engkau akan diajak mengeksplorasi makna lewat artefak-artefak perjuangan para pendahulu Islam. Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Jember, 27/11/17

EDE / Peserta batch 2 #apresiasiumrohpegawaibsm2017 bersama Sahara Kafila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar