Galeri Video

[Video][bigposts]

Galeri Foto

[Gallery Foto][twocolumns]

Berita Haji Umrah

[Berita][twocolumns]

Detik Kesadaran Diri


Ayah Enha
Pembimbing Haji Sahara Kafila

Dalam sebuah obrolan ringan bersama beberapa jama'ah  haji di pelataran Masjidil Haram, aku mendapatkan suntikan spirit ini, bila disimpulkan, kira-kira begini:

Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.

Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal.

Maka di atas sukses ada signifikan. Jadilah manusia signifikan yg penuh nilai, bukan sekedar sukses yg meskipun tampak berkelimpahan namun kosong secara spiritual.

Pribadi yg signifikan dirinya penuh makna sehingga dirujuk oleh orang lain sebagai teladan; bukan sekedar pengetahuannya yg luas tapi tutur katanya yg santun, menghargai dan memuliakan.

Islam, sejak awal kehadirannya memposisikan dirinya sebagai "sikap penuh ketundukan". Islam adalah sikap bukan merujuk pada subjek atau seseorang yg "bangga" dgn kesalehan formalnya. Berislam berarti bersikap signifikan. Islam itu mashdar bukan isim fa'il... Islam itu mewujud dalam ketundukan yg sholeh... Islam bukan goretan aksara pada KTP, baju kokoh, gamis, sorban besar, jabatan ormas keislaman, haji berkali-kali, gelar ustadz atau bahkan hafalan qur'an-mu...

Islam mewujud pada signifikansi ketundukan yg membumi, menyadari pengawasan Allah bukan sekedar pada keberadaanmu bahkan pada setiap huruf yg keluar dari mulutmu, pada setiap desah nafasmu, pada setiap angin yg mendesir pelan, pada setiap daun yg berguguran, pada setiap gerak ikan yg berenang, pada setiap detik kejadian.

Arogansi seringkali menutup diri dari kesadaran ruhani semacam ini... Temukan segera DKD-mu...

DKD adalah Detik Kesadaran Diri, dimana kita dengan penuh kearifan mengakui sisi paling lembut dari kekhilafan dan kezaliman kita...

Lâ ilâha illâ anta Subhânaka innî kuntu min adz-zhâlimîn...

Enha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar