Galeri Video

[Video][bigposts]

Galeri Foto

[Gallery Foto][twocolumns]

Berita Haji Umrah

[Berita][twocolumns]

Renungan Arofah

Praktek-praktek ritual ibadah haji, sangat berkaitan dan kental sekali dengan peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS dan keluarganya. Yang semua mempertegas kembali kepada setiap jamaah haji tentang prinsip-prinsip ajaran yg beliau anut.
Tiga prinsip ajaran Nabi Ibrahim AS adalah :
1. Prinsip Tauhid, pengakuan akan keesaan Allah dan menolak segala bentuk kemusyrikan, baik keyakinan kepada benda, bulan , matahari dll
2. Prinsip keadilan Allah, siapa yg berbuat baik akan diberi kebaikan dan siapa yg berbuat tdk baik akan menerima yg setimpal dgnnya.
3. Prinsip Universalisme, Persamaan semua manusia baik kuat atau lemah, di mata Allah semua sama, yg membedakan adalah ketakwaan.
Tulisan ini menekankan pada prinsi yg ketiga Universalisme, persamaaan semua manusia di mata Tuhan Allah SWT, pembedanya hanya ketakwaan.
Dalam Ibadah Haji, Allah amat sangat menekankan kebersamaan, Dalam al-Baqoroh 2: 199, Allah menegur sekelompok orang dgn julukan al Hummas, yg merasa memiliki keistimewaan sehingga mereka tidak mau berkumpul, bercampur dgn manusia lainnya di Arafah. Mereka berwukuf di Mudzdalifah, sementara manusia yang lain berwukuf di Arafah.Latarbelakang mereka memisahkan dirk adalah merasa superioritas dr yang lain. ALLAH menyatakan : Bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang2 banyak dan mohonlah ampun kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tak dapat disangkal bahwa pakai menurut kenyataannya dan juga menurut al-Qur'an berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya.
Perbedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengarus psikologi pada pemakainya.
Di Miqot Makany, di tempat dimana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan-perbedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama, pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, sehingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan.

Tidak hanya dalam ritual haji, univesalisme harus ditegakan. Dalam perjalanan dakwah manusia muliapun Nabi Muhammad SAW, berdakwah dengan pengorbanan tetesan darah, beliau berupaya agar manusia mampu melihat manusia lain dalam bingkai sesama makhluk Tuhan, yang membedakan mereka adalah prestasi ketakwaan kepada Allah.
Beliau Rosul SAW menghancurkan sekat-sekat pembatas yang diciptakan oleh kaumnya. Merobohkan strata sosial manusia, tak ada darah biru dalam ajaran beliau, tak ada superioritas, tidak ada pembeda antara kaya dan miskin, semua sama dimata Sang Pencipta, siapa yang berusaha sekuat tenaga mempersembahkan amal terbaik, maka ialah yang paling mulia.
Terusik jiwa kami, saat-saat kita akan melakukan wukuf di Arofah, yang seharusnya menjadi tempat perenungan perjalanan hidup seorang hamba menuju Tuhan , saat kita bangkit ingin mengembalikan visi dan misi hidup yang di ridhoi oleh Tuhan Semesta. Ada sekelompok orang, yang padahal mereka serumpun dengan kita, merasa lebih super dari bangsa kami, jamaah kami dilarang mengambil makanan ditempat yang diklaim milik mereka, memasuki kamar mandi yang sekali lagi dikalim milik mereka. Padahal semua yang ada adalah fasilitas bersama yang telah disediakan oleh panitia haji (Maktab).
Ya Robbal 'Alamin, berikan kami dan mereka hidayah, satukan hati kami. Sadarkan jiwa kami, bahwa saat kami berhaji seharusnya kami melepaskan segala bentuk fanatisme kesukuan, kebangsaan. Seharusnya kami melebur dalam indahnya persaudaraaan. Siapapun mereka, dari manapun mereka, ketika mereka berada ditempat ini,mereka semua adalah saudara kami.Ampuni kami dan mereka, serta semua yang ada di Arofah. Wahai Tuhan Semesta Alam, engkaulah sebaik-baik pengampun. Ya Mujibassailin.
Wassalam
Renungan Arofah, 9 Dzulhijjah
Lutfi Rahman
www.saharakafila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar