Select Menu

ads2

ads2

Slider

slogan

slogan

Berita Haji dan Umroh

Informasi Jamaah Haji 2014

Alumni Sahara Kafila

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila

Ilustrasi – Ibadah Haji (inet)
Sebagai rukun Islam yang kelima, ibadah haji merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan baik mengenai fisik, mental, dan juga biaya. Jika saja ibadah haji diwajibkan pada seluruh lapisan umat Islam, sudah pasti akan memberatkan bagi orang yang tak mampu melaksanakannya. Maka dari itu, seseorang yang dapat melaksanakan ibadah haji memiliki prestise tersendiri, karena tidak setiap orang dapat melaksanakan ibadah tahunan tersebut. Orang yang dapat melaksanakan ibadah haji dianggap sebagai kalangan atas yang memiliki kemampuan ekonomi di atas rata-rata. Karena begitu mahalnya ongkos naik haji yang mencapai kisaran puluhan juta rupiah, angka yang fantastis bagi sebagian besar masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan ekonomi. Bagi mereka – yang kurang kuat imannya – uang sebanyak itu mungkin lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang menyangkut kelangsungan hidup mereka.

Meski biaya haji yang kerap meningkat setiap tahunnya, tetap tak menyurutkan niat dan semangat umat Islam untuk berziarah ke tanah suci. Terbukti, jumlah calon jamaah haji tahun ini mencapai 168.800 orang. Angka itu terdiri dari haji reguler 155.200 dan haji khusus 13.600 jamaah. Hal ini menunjukkan bahwa antusias masyarakat Indonesia dalam menunaikan ibadah haji tetap tinggi dan senantiasa meningkat, namun sebagian besar merupakan jamaah yang pada tahun-tahun sebelumnya juga melaksanakan rangkaian ibadah haji. Dengan kata lain, banyak di antara mereka yang menjadi langganan haji dengan berangkat lebih dari sekali dalam kurun waktu lima tahun. Secara tidak langsung menunjukkan status ekonomi mereka yang di atas rata-rata. Sayangnya, tidak sedikit di antara mereka yang terkesan membanggakan title haji di depan nama mereka, bahkan banyak yang setelah pergi haji ingin disebut sebagai “pak haji’ atau “bu haji” di lingkungan tempat mereka tinggal. Karena mereka merasa kurang lengkap jika sebutan nama mereka tidak dibarengi dengan kata “haji”. Fenomena tersebut memang tidak bisa disalahkan adanya, karena memang sudah sifat manusia yang selalu ingin mendapatkan perhatian dari sesamanya. Namun yang salah adalah seseorang yang membangga-banggakan gelar hajinya tersebut. Seolah ia dapat melaksanakan ibadah haji dengan kemampuan dan hartanya sendiri. Padahal dalam kalimat talbiyah diucapkan “innal hamda wanni’mata laka” yang memiliki arti “segala puji dan nikmat bagi-muNamun kenyataannya, banyak yang masih membanggakan dan terkesan sombong setelah melaksanakan ibadah haji.
Menunaikan ibadah haji bukanlah perkara mudah, diperlukan niat yang suci dan hati yang bersih sebelum melaksanakannya. Haruslah diniatkan bahwa ibadah haji semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Illahi dengan rangkaian ibadah yang dilaksanakan. Tapi faktanya, banyak yang sebelum berangkat telah berniat untuk membawa bekal harta yang banyak untuk berbelanja nantinya. Juga ada di antara mereka yang selalu membanggakan barang belian mereka, dan mereka merasa tidak percaya diri jika tidak membawa apa-apa saat pulang nanti. Dikhawatirkan mereka yang bersikap demikian niatnya berubah untuk kepentingan duniawi saja, tidak murni untuk kepentingan ukhrawi.

Harus disadari bahwa ibadah haji merupakan ritual ibadah yang sakral dan tidak boleh main-main, karena jiwa dan raga seseorang yang melaksanakan haji sepenuhnya dipasrahkan untuk berserah diri kepada Allah dengan beribadah kepadanya. Tidak boleh sedikitpun ada niatan yang kotor di dalam hati. Bahkan, melihat pengalaman dari banyak jamaah haji yang telah melaksanakan ibadah haji, bahwa setiap kelakuan buruk di tanah air akan ditampakkan di tanah haram. Sehingga menjadi bahan introspeksi supaya hati menjadi lebih bersih, dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk ke depannya. Itulah yang disebut dengan haji yang mabrur, yang dapat mengambil hikmah dari perjalanan ke tanah haram. Kemudian selanjutnya menjadi insan yang senantiasa berbuat ihsan.

Begitu banyak keutamaan-keutamaan dan juga pahala yang diperoleh dari ibadah haji. Bahkan Rasul pernah bersabda bahwa tiada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga. Selain itu, ketika seseorang meminta ampunan kepada Allah di padang Arafah, maka Allah akan membebaskan dari segala dosa dan juga api neraka. Sangat banyak keuntungan ketika melaksanakan ibadah haji, karenanya jangan sampai niat suci kita tercemari oleh perasaan angkuh, sikap hedonis, dan juga riya. Itu semua akan menyebabkan ibadah haji yang dilaksanakan menjadi sia-sia dan tiada nilainya di hadapan Allah SWT. Dengan kata lain, akan menjadikan seseorang akan menjadi haji mardud atau ditolak amal ibadahnya,  na’udzubillah min dzalik.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/10/14/40722/haji-esensi-atau-gelar/#ixzz3Glb7NAO5 
Oleh: Dwi Fahrial

“Kau harus mabrur sebelum kau berangkat ke sana..!”
“Kau harus mabrur sebelum kau berangkat ke sana..!”

Kalimat itu begitu menghentak. Tapi setelah lewat beberapa detik, Hati saya malah tergelitik nyaris terpesona dengan makna kalimat unik itu. Bagaimana mungkin kemabruran seseorang sudah harus dimulai sebelum ia sendiri berangkat ke tanah suci. Bukankah perjalanan ibadah ke sana untuk mendapatkan haji yang mabrur..? Ah, bagaimana mungkin?

Dalam buaian semilir angin sore, saya terus mengunyah-ngunyah makna kalimat itu. Benar-benar kalimat yang mengusik keingintahuan saya. Begitu menelisik , perlahan masuk ke sela-sela memori saya yang mulai payah diajak sprint dalam belajar dan menyerap informasi. Ah, saya harus jujur mengakui, lambat nian nalar saya bisa mencerna kalimat itu dan memahami maknanya. Pengolahan informasi tertatih-tatih dalam sel-sel memori saya yang serasa menyempit.

“Kenapa bisa begitu..?”
Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut saya. Itu bagus, sebelum keburu eror jaringan saraf saya memikirkan makna kalimat itu. Saya tatap wajah teduh itu dengan binar mata ingin tahu. Ni orang asal jangan sembarang ngomong aja tapi ia sendiri ga paham maksud kata-katanya itu. Lintasan pikiran saya sempat berkelibat seperti itu. Tapi hati saya menepis pikiran liar itu. Orang dengan wajah teduh ceria seperti ia dengan kalimat lembut menawan tak layak dicurigai. Ia pasti punya jawaban asik untuk pernyataan yang menggelitik itu. Ia orang soleh yang cerdas. Racikan kata-katanya sedap dan krispi. Jeli memilih dan memilah kata, jadilah kalimat-kalimatnya menjadi ramuan yang sedap di telinga kaya gizi pula. Dan sama sekali terhindar dari mengumbar kata-kata kacangan yang kosong makna dan tanpa data.

“Hahaha..”

Ia malah tertawa kecil memamerkan deretan gigi jagungnya yang indah. Rona wajahnya enak nian ditatap, memancarkan aura kehangatan dan kedekatan. Seakan sudah dapat menduga saya akan berkata seperti itu. Sebentuk kepuasan tergurat di garis bibirnya yang proporsional. Saya merasa tersinggung sebenarnya, tapi saya tak punya alasan mengapa merasa seperti itu. Saya balas tawa kecilnya dengan kalimat lebih terbuka…
“Oke, sekarang jelaskan kenapa bisa begitu…?”

Saya harus tegaskan kalimat itu dengan tetap memasang senyum nomor tiga dan wajah ceria sebisa saya. Seakan saya diajarkan bagaimana memasang wajah cahaya setiap kali berhadapan dengan lawan bicara. Saya merasakan betul pantulan cahaya dari wajahnya setiap kali ia berbicara pada saya. Ah, kau pasti menganggap aku berlebihan kan..?! Tidak kawan, saya tidak berlebihan. Setidaknya seperti itulah yang saya rasakan. Mungkin kau-pun pernah merasakan, betapa asik berbicara dengan seseorang meski hanya berbicara topic-topik ringan dan sederhana. Atau malah sebaliknya, kita bisa merasakan asik berbicara meski membahas topic yang berat dan pelik. Saya piker itu termasuk keterampilan berbicara. Makanya saya memantas-mantaskan diri meniru bagaimana ia berbicara dengan pantulan cahaya hangatnya.

“Kau tahukan, bahwa Haji itu rukun Islam ke lima, artinya yang terakhir..!”
Ia membuka kalimat lanjutan secara datar saja.
“Iya..!”

Jawab saya spontan. Tanpa menunggu komando, nalar saya mulai bereaksi cepat. Kalimatnya membuat sepersekian jawaban di memori saya bekerja. Diolah dan menyatu dalam sebuah jawaban kecil. Tersimpan di salah satu sel otak saya yang akan siap dikeluarkan menunggu perintah berikutnya. Tapi saya terlambat, kalimat berikutnya menyusul keluar dari mulutnya memberi penjelasan tambahan.

“Itu artinya, orang-orang yang pergi ke Baitulloh untuk ibadah Haji adalah orang-orang yang seharusnya sudah beres rukun islam yang pertama sampai ke empat-nya. Syaadatnya sudahbenar. Sholatnya sudah benar. Begitu pula saum dan zakatnya. Maka, saat ia berangkat Haji, ia sudah menjadi seorang yang mabrur, seorang yang baik ibadah-ibadahnya. Sehingga menjadi Haji mabrur menjadi sebuah formalitas saja sebenarnya.”

Saya diam. Merenung. Tersenyum. Saya tatap wajahnya yang teduh namun hangat itu dengan rasa kagum. Betapa sederhana kalimat itu menjadi sebuah kaedah. Mengapa saya tak berpikir dan memahami seperti itu? Padahal sudah puluhan tahun terlewati seiring melajunya usia.

“Terima kasih banyak atas pencerahannya.”

Ujar saya cepat. Karena diapun hendak segera berlalu. Dengan berat dilepasnya pelukan eratnya nan hangat. Saya beruntung bertemu dia, banyak nian kalimat-kalimat hikmah yang saya dapat saat kami ngobrol kilat, memang hanya sepintas, seperti sekarang ini, saat saya bersiap-siap akan berangkat bersama kloter 17 JKS, dan bertemu beberapa menit saja sebelum saya naik bis ke bandara ke tanah suci.

“Jangan lupa banyak berdoa di sana..!”
Sambil berbalik badan ia berlalu dan hilang di kerumunan pengantar dalam keremangan subuh.

Sumber :
http://www.rumahkeluarga-indonesia.com/mabrur-sebelum-haji-6577/
Dalam pelaksanaan haji, saat ihram khususnya, tidak ada untaian kalimat yang terasa lebih menerbitkan keharuan dan getaran jiwa selain kalimat talbiyah. Bahkan yang belum berhaji sekalipun bisa jadi merasakan getaran tersebut sembari berharap dan menanti-kenanti kesempatan yang Allah berikan untuk melantunkannya di tempat dan waktu yang sesungguhnya.
Namun, yang sesungguhnya lebih penting dari itu adalah bagaimana makna yang terkandung dalam kalimat talbiyah meresap dalam jiwa, lalu berwujud dalam gerak nyata, dan kemudian menjadi sebuah keyakinan dan kepribadian mempesona. Karena dia mengandung hal yang sangat prinsip sekali dalam akidah kita.

Secara garis besar, kalimat talbiyah dapat dibagi dua bagian. Bagian pertama adalah;

لبيك اللهم لبيك ، لبيك لا شريك لك لبيك

“Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu ya Allah.”

Labbaika… adalah ungkapan penuh ketaatan saat mendengar panggilan yang diarahkan kepadanya . Dalam bahasa Arab, ungkapan ini diucapkan dari pihak yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi, seperti anak kepada orang tuanya atau murid kepada gurunya. Sebagaimana para shahabat radhiallahhu anhum, jika dipanggil Rasulullah saw, mereka akan berkata, “Labbaika yaa Rasulallah….” . Dalam konteks ibadah haji, perjalanan yang panjang, ongkos dan beban berat yang harus dipikul serta berbagai kesulitan menghadang, takkan menghalangi kaum muslimin untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji, jika Dia telah izinkan.

Di luar itu, sejatinya, “labbaika..” bukan hanya sebatas ucapan yang dilantunkan, tapi seharusnya menjadi keyakinan tak terpisahkan, bahwa tidak ada jawaban dan sikap yang paling pantas dari diri seorang mukmin saat mendengarkan dan menerima seruan Allah kecuali dia menyatakan “Kami dengar dan kami taat”. Inilah terjemahan yang paling lugas dari kata “labbaik” itu. Sehingga, bukan hanya terhadap seruan haji, tapi terhadap seruan lainnya yang bersumber dari Allah Ta’ala, seperti shalat, puasa, zakat, bakti kepada orang tua, menutup aurat, melaksanakan yang ma’ruf dan menjauhi yang munkar, lisaanul haal (sikap) kita hendaknya menyatakan “Labbaika yaa Allah….”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ (سورة الأنفال 24

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu…” (QS. Al-Anfal: 24)

Inilah hakekat tauhid uluhiyah, tauhid ibadah dan penghambaan yang menuntut kita untuk selalu mewujudkan ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Dan inilah yang menjadi misi utama para rasul sejak awal hingga akhir. Bahkan pesan tauhid dipertegas lagi dengan kata “Laa syariika lak” (Tidak ada sekutu bagiMu), bahwa ibadah dan penghambaan harus murni kepada Allah Ta’ala semata. Tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada ibadah untuk selain-Nya, apapun dan siapapun wujudnya.

Bagian kedua dari kalimat talbiyah adalah:

إن الحمد والنعمة لك والملك ، لا شريك لك

“Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan hanya milik-Mu, tiada setuju bagi-Mu.”

Bagian kedua dari kalimat talbiyah ini berisi pengakuan dan keyakinan mutlak akan kekuasaan dan kerajaan Allah Ta’ala serta kebesaran dan keagunganNya yang tiada tanding. Maka segala puji hanya layak diberikan kepada-Nya. Lebih dari itu, nikmat Allah Ta’ala tiada terkira kepada setiap hamba. Tidak ada satupun bagian hidup kita kecuali bergantung dengan nikmat dan kasih sayangNya. Dialah yang menentukan dan mengatur segala kehidupan ini. Maka segala puji hanya layak dikembalikan kepada-Nya.

Inilah Tauhid Rububiyah yang juga tidak boleh hilang dalam diri seorang muslim. Pernyataan ini pun diperkuat dengan nilai tauhid yang mutlak dan murni yang tidak menerima sikap mendua; “Laa syariika lak” (tidak ada sekutu bagiMu). Tauhid Rububiyah mengajarkan kita untuk bersandar dan bergantung dengan kekuatan dan kekuasaan Allah semata. Bahwa apapun kedudukan, kekuatan dan kebesaran yang kita miliki, atau yang dimiliki oleh makhluk apapun dan siapapun, semua itu tak ada apa-apanya dibanding kekuasaan dan kekuatan Allah yang sedikitpun kehidupan kita tidak dapat berpisah darinya. Jangan sampai penyandaran dan kepasrahan kita dialihkan kepada diri sendiri atau makhluk lainnya dibanding kepada Allah.

Apalagi pada saat yang sama dan tempat yang sama, jamaah haji dari berbagai penjuru dunia dikumpulkan dengan berbagai latar belakang sosial, pendidikan dan ekonomi yang beraneka ragam. Semua kebesaran dan simbol-simbol duniawi hendaknya ditanggalkan.

Maka, ketika sesaat sebelum ihram seseorang melucuti pakaian biasanya untuk diganti dengan kain ihram, hendaknya diapun melucuti kesombongannya dan keangkuhannya untuk kemudian menjadi hamba yang bersandar, bergantung dan memohon hanya kepada Allah Ta’ala. Sebuah sikap yang tidak hanya dituntut saat dia melaksanakan ibadah haji, tapi dalam semua aspek kehidupannya, sebelum haji, saat haji maupun sesudah haji.

Mengumandangkan kalimat talbiyah sambil meresapi makna yang terkandung di dalamnya, tentu akan lebih mampu mengetuk dinding-dinding hati dan lebih memberikan energi untuk semakin mempersembahkan ketundukan kepada Allah rabul izzati… (PKS Taiwan)

Riyadh, Dzulqa’dah 1434 H
Abdullah Haidir, Lc
Haji dalah perjalanan ibadah. Kewajiban ibadah ini disesuaikan dengan kemampuan seseorang. Orang yang mampu secara biaya, kesehatan, keluangan, dan keamanan, wajib melaksanakannya. Seperti firman Allah swt.: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Ali Imran: 97].

Oleh karena itu, orang yang melaksanakan haji disyaratkan memnyiapkan bekal yang cukup, selain biaya yang sudah ditentukan dengan ONH. Mempunyai bekal yang cukup juga bertujuan agar sempurna seorang haji dalam menghambakan diri kepada Allah swt. Karena kalau tidak memiliki bekal, dia akan meminta-minta kepada orang lain. Hal itu akan berakibat menundukkan dan merendahkan diri kepada sesama makhluk. Bukan kepada Allah swt.

Bagi sejumlah orang, jumlah ONH terasa sangat besar. Apalagi di tengah iklim ekonomi yang kian sulit. Sehingga mereka kadang terpikir, jika dana sebesar itu digunakan untuk berinvestasi, tentu akan sangat menguntungkan. Bukan dibuang-buang untuk perjalanan haji.

Membelanjakan dana untuk menunaikan ibadah haji bukanlah sesuatu yang sia-sia. Orang yang menghabiskan banyak dana untuk menunaikan ibadah haji hendaknya tidak merasa telah kehilangan hartanya. Hal itu karena Allah swt. akan membalasnya dengan berlipat ganda. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Pembiayaan dalam haji sama dengan pembiayaan dalam berjihad di jalan Allah swt; akan dibalas dengan pahala 700 kali lipat.” [HR. Ahmad].

Dalam hadits lain disebutkan, “Orang yang melaksanakan haji dan orang yang melaksanakan umrah adalah tetamu Allah swt. Allah swt. akan memberi apa yang mereka minta; akan mengabulkan doa yang mereka panjatkan; akan mengganti biaya yang telah mereka keluarkan; dan akan melipat-gandakan setiap satu Dirham menjadi satu juta Dirham.” [HR. Al-Fakihani dalam Akhbaru Makkah].

Disebutkan dalam hadits di atas, Allah swt. akan mengganti biaya yang mereka keluarkan itu dalam kehidupan dunia. Sedangkan balasan yang dilipat-gandakan itu akan diberikan di akhirat. Maka dari itu, tidak perlu ada perasaan takut miskin ketika harus mengeluarkan biaya yang banyak. Karena Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang melaksanakan haji sama sekali tidak akan jatuh miskin.” [HR. Ath-Thabrani dan Al-Bazzar]. [msa/dakwatuna].
ilustrasi @vk 

Tahun 1991, ONH-nya sekitar enam juta rupiah. Bertambah lama seiring dengan perubahan nilai tukar rupiah, ONH semakin naik. Tujuh juta, sembilan juta, dua belas juta, dua puluh satu juta, dua puluh lima juta rupiah,

Bagaimana kalau ada orang yang pergi haji dengan modal ‘seratus rupiah’ saja?

Pada hari minggu pagi yang cerah, seperti biasanya saya pergi belanja di salah satu pasar. Suatu ketika saya belanja palawija pada seorang ibu setengah baya. Ada satu hal yang membuat saya terpana. Saya sangat tertarik melihat cara ibu tersebut melayani pembelinya.

Karena tertarik, maka setiap saya pergi ke pasar tersebut saya selalu memperhatikan lebih seksama lagi terhadap perilakunya. Beberapa kali saya perhatikan menjadikan saya lebih ‘penasaran’ untuk lebih mengikuti secara rutin kejadian demi kejadian yang ‘diperagakan’ oleh ibu tersebut.

Katakanlah ia bernama Ibu Asih. Apa yang dilakukannya setiap ia melayani pembelinya? Yang membuat saya kagum tiada habisnya ialah, setiap ia selesai menjual barang dagangannya, secara spontan mulutnya selalu bergumam lirih dengan ucapan “Alhamdulillah.”

Apakah dagangannya laku sedikit atau laku banyak, selalu saja mulutnya bergumam alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukurnya.

Yang lebih menarik lagi ialah setiap ada orang peminta-minta yang menengadahkan tangannya, tidak satupun yang tidak diberinya, demikian pula tak satupun seorang pengamen yang lewat yang tidak diberinya.

Meskipun ia sedang sibuk melayani orang-orang yang sedang membeli barang dagangannya, selalu saja ia menyempatkan tangannya untuk memberi mereka. Diambilnya uang logam seratus rupiah, yang rupanya sudah disediakan untuk orang-orang tersebut. Sayangnya saya tidak pernah bertanya kepadanya kira-kira ada berapa puluh orang dalam satu hari ia memberi orang miskin dan para pengamen tersebut .

Ini sebuah kejadian yang nampaknya biasa-biasa saja. Tetapi memiliki nilai yang sangat tinggi dalam kehidupan sosial maupun dalam kehidupan religius. Ucapan syukur beserta penghayatan dan sekaligus pengamalannya telah diperagakan oleh ibu Asih. Meskipun dengan cara sederhana dan dengan nilai rupiah yang kecil.

Hal ini sangat berbeda sekali dengan kondisi sebuah toko yang lebih besar, yang letaknya tidak seberapa jauh dari ibu penjual palawija ini.

Di depan toko itu tertempel kertas putih bertuliskan kalimat yang cukup ‘sopan’ yaitu : ‘maaf, ngamen gratis’

Sebuah retorika yang cukup sopan dan lembut, tetapi jika dilihat dari sudut pandang yang lebih arif, kita bisa menyimpulkan bahwa hati dan perasaan ibu Asih jauh lebih lembut dari pemilik toko tersebut.

Saya menaksir bahwa keuntungan yang diraih oleh pemilik toko tersebut nampaknya cukup besar setiap harinya. Tetapi ia tidak mau dan tidak rela ‘berbagi rasa’ dengan para pengamen dan para pengemis, walaupun hanya seratus rupiah saja.

Sungguh sangat berbeda dengan kondisi ibu Asih, yang dagangannya jauh lebih kecil dibanding toko tersebut, tetapi ia mempunyai hati yang lembut dan rasa welas asih kepada para pengamen dan para peminta-minta.

Setelah saya amati sekian lama, hasil dari perilaku ibu Asih tersebut sungguh luar biasa. Kami perhatikan barang dagangannya bertambah lama semakin bertambah besar. Dan klimaksnya, beberapa waktu yang lalu ia dapat pergi menunaikan ibadah Haji bersama suaminya.

Dan saya pun merenung. Allah telah mengganti nilai seratus rupiah yang diperuntukkan bagi orang-orang miskin itu. Sekarang tumbuh menjadi dua buah ONH bu Asih dan suaminya. Sungguh luar biasa!

Satu lagi yang dapat saya simpulkan, bahwa ucapan alhamdulillah di bibir ibu Asih mempunyai timbangan setara dengan lima puluh juta rupiah. Subhaanallah…

Apa janji Allah Swt? “Barangsiapa yang mensyukuri nikmatKu, pasti akan Aku tambah, dan barang siapa yang lalai dan kufur terhadap nikmatKu, maka tunggulah siksaKu amatlah pedihnya.” (QS. Ibrahim : 7).

Melihat contoh sederhana dalam kehidupan semacam ini, sebagai orang yang beriman tentu hati kita menjadi tergerak untuk menirunya. Meniru kelemahlembutan hatinya. Meniru kepeduliannya. Meniru rasa percaya dirinya akan balasan dari Allah Swt. Dan meniru bagaimana cara mengungkapkan rasa syukurnya.

Yah, kadang-kadang manusia memang harus banyak belajar dari manusia lainnya. Bahkan dari semua peristiwa yang telah terjadi. Karena semua peristiwa yang telah terjadi di dunia ini adalah contoh berharga yang harus kita pelajari, kita baca, dan kita renungkan. Semua itu merupakan ilmu Allah yang sangat mahal nilainya.

Dengan ‘modal’ seratus rupiah, bu Asih berangkat Haji bersama suami. [islampos]

Sumber : Bersamadakwah.com
Ilustrasi (inet)
Musim berganti, gugur daun kota akan segera tiba. Sore kemaren seorang Paman menyapa saya, ketika saya menyempatkan menyapa satpam petugas gedung ATAUM yang terkantuk. “iyi akşamlar Ağbey.” Selamat sore Pak. “iyi akşamlar.” Jawabnya dengan wajah setengah kaget dan sepasang senyum sumringah. Sesampainya di pintu luar sebuah suara berbeda menyapa dari belakang.

“Nerelisin?” Dari mana asalmu? Tanya suara sang Paman.
“Malezyalımısın?” Apakah kamu orang Malaysia. seorang Paman yang sepertinya mahasiswa Ph.D, kira-kira berusia 45 tahun.

“Hayır Ağbey, Endonezyalıyım.” No sir, I’m Indonesia.” Jawab saya.
“Iya Indonesia dan Malaysia memang mirip.” Kata sang Paman. Saya tersenyum mengangguk, mengiyakan. Pasalnya kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi.
“Saya mengenal baik orang Indonesia.” Lanjut sang Paman. Saya menyimak, kebetulan kami berjalan searah menuju gerbang kampus.

“Saya bertemu orang Indonesia saat menunaikan ibadah haji di Mekkah.” Jelas sang Paman. Saya tersenyum. Dan pasalnya juga pernyataan kisah tentang pertemuan antara orang Turki dengan jamaah haji Indonesia seperti petang ini juga untuk yang kesekian kalinya, meski dengan orang yang berbeda. Sebagaimana nyaris genap 2 tahun saya tinggal di Turki mungkin ini kisah entah yang keberapa kalinya tentang betapa gembiranya jamaah haji Turki bertemu dengan jamaah haji Indonesia. Lalu apakah kiranya yang menarik dari perbincangan singkat petang itu?

Siluet matahari merunduk dari celah-celah rimbun pepohonan buah kiras. Membuat wajah sore itu semakin sempurna menyambut senja. Wajah kami terlihat keorangean oleh sinar matahari yang mereda. “Jamaah haji Indonesia jumlahnya banyak sekali. Di mana-mana wajah Indonesia. Mereka berjalan beriringan dan tidak saling terpisah. Berbeda dengan kami, berpencar satu sama lain. Jamaah haji Indonesia duduk dialun-alun membaca Al-Quran dengan khusyuk. Ramah sekali meski kami tidak saling mengerti bahasa satu sama lain. Dan jika ada yang berpakaian seragam rapi dan tertib, itu pasti jamaah haji dari Indonesia.” Ungkap sang Paman panjang lebar, senyumnya terkembang menunjukkan hatinya penuh gembira. “Itu sebabnya saya sangat suka berteman dengan orang Indonesia.” Lanjutnya.

“Çok sağol Ağbey.” Terima kasih Sır, jawab saya singkat sambil tersenyum dan pamit. Kami saling berpisah karena arah jalan yang berbeda.

***
Betapa gembiranya hati saya sore itu. Menekuni kalimat yang disampaikan oleh sang Paman. Kejadian seperti ini sebenarnya sudah sangat sering terjadi, tidak hanya saya, akan tetapi hampir rata-rata mahasiswa Indonesia mengalami kisah kejadian yang sama. Sejenak saya merenungi satu hal yang nyaris saya lupakan, bahwa banyaknya jumlah jamaah haji Indonesia yang berangkat menuju Mekkah telah memberikan manfaat yang demikian besar bagi saya dan tentu saja bagi kami para mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh studi di luar negeri dan di Turki khususnya.

Sifat ramah tamah dan ketekunan beribadah jamaah haji Indonesia di tanah suci telah membangun kedekatan emosional dan kekeluargaan yang mendalam pada masyarakat Turki. Menjadikan masyarakat İndonesia memiliki ruang tersendiri di hati mereka. Sebagai contoh lebih jauh dari itu beberapa keluarga Turki juga menjadikan kami sebagai bagian anggota keluarga mereka (seperti menjadikan kami sebagai anak angkat) karena pertemuan mereka dengan jamaah haji Indonesia beberapa tahun silam. Keramahan dan tepa slira jamaah haji Indonesia telah memberikan tempat tersendiri yang demikian istimewa di hati para jamaah haji masyarakat Turki.

Indonesia menjadi negara yang jamaah hajinya dituturkan kisahnya secara turun temurun karena pertemuan mereka di tanah suci Mekkah. Tentu saja hal ini memberikan manfaat yang sangat positif bagi kami. Secara psikologi kami menjadi tidak merasa asing di negeri perantauan yang tidak terhitung jauh jarak tempuhnya dari tanah air. Menjadi bagian keluarga besar masyarakat warga negara Turki, sehingga menjadi seperti rumah yang menggembirakan.

Catatan saya ini, mewakili ungkapan rasa terima kasih yang dalam kepada seluruh keluarga besar Jamaah haji Indonesia, yang telah membangun ukhuwah lintas benua yang tidak terbatas. Memberikan keteladanan sikap dan akhlak yang santun sehingga diperbincangkan dengan penuh gembira oleh masyarakat jamaah haji dari Turki khususnya. Dan saya yakin kepada masyarakat Islam dunia secara luas.

Semangat berhaji masyarakat Indonesia menjadi catatan penting bagi saya secara pribadi. Sederhananya meskipun keluarga saya atau kami para mahasiswa bahkan belum ada yang berangkat ke Mekkah sekali pun, namun pertemuan jamaah haji masyarakat İndonesia dalam jumlah yang sedemikian besar telah memudahkan bagi masyarakat muslim dunia mengenal muslim Indonesia lebih dekat. Lebih jauh jamaah haji Indonesia telah menanamkan senyum-senyum keteladanan akhlak yang mendalam bagi masyarakat muslim di Turki.

Jumlah kekuatan yang sedemikian besar, tercatat 46.861 jamaah yang menunaikan ibadah haji tahun ini (10/9/2014, haji.kemenag.go.id). Semoga catatan positif yang telah dilakukan oleh para jamaah haji Indonesia menjadi sumber kekuatan yang kelak melahirkan serta membangun pilar-pilar kekuatan dan menjadi cahaya penerang peradaban bagi kebangkitan tanah air, Indonesia. Teşekkür ederim, terima kasih banyak untuk seluruh jamaah haji Indonesia. Semoga berkah ibadah pertemuan dengan sang Khalik di rumah suci-Nya, serta menjadi catatan amal ibadah pemberat timbangan amal di yaumul mizan kelak. Aamiin insya Allah. Salam khidmat dari kami para penuntut ilmu dari negeri para penakluk. Konstantinopel, Turki.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/10/03/57784/surat-cinta-dari-turki-kepada-jamaah-haji-indonesia
Maria Luiz Calvo (depan-tengah)
"Ketika saya mendekati Kabah saya merasa kaki saya gemetar. Mereka tidak bisa membawa saya dan saya hampir pingsan. Saya mulai menangis terkagum-kagum dengan kesucian tempat ini," tutur dia.
Maria Luiz Calvo mengaku sangat bahagia bisa menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Sebab, perempuan asal Kuba itu bisa menjalankan rukun Islam kelima ini saat baru saja menjadi mualaf. Perempuan berusia setengah abad ini mengucap Syahadat tujuh bulan yang lalu.
"Saya mewakili jamaah haji Kuba. Saya merupakan satu di antara jamaah yang datang dari Republik Kuba tahun ini," ujar Liva dikutipDream dari Saudi Gazette, Rabu 8 Oktober 2014.
Bersama jamaah haji lain dari Kuba, perempuan yang berprofesi sebagai guru ini mengaku harus menempuh perjalanan selama berjam-jam untuk sampai ke Saudi. Mereka memerlukan waktu 12 jam untuk terbang dari Havana ke Moskow dan kemudian lebih dari tujuh jam untuk mencapai Dubai.

Dari Dubai menuju Jeddah menghabiskan waktu lebih dari dua setengah jam. "Saya juga menghabiskan waktu berjam-jam untuk transit di bandara," tambah dia. Saat tiba di Tanah Suci, Liva dan jamaah aal Kuba tergabung dalam kamp nomor 27 di Mina.
Liva mengatakan, saat sopir mengantarnya ke Masjidil Haram, jantungnya berdegup kencang. "Ketika saya mendekati Kabah saya merasa kaki saya gemetar. Mereka tidak bisa membawa saya dan saya hampir pingsan. Saya mulai menangis terkagum-kagum dengan kesucian tempat ini," tutur dia.

Perempuan yang bisa berbicara dalam tujuh bahasa ini mengaku tak bisa menghentikan air matanya selama menjalankan ritual haji. Meski berada di kerumunan peziarah, baik di Masjidil Haram maupun melempar jumrah, dia merasa sendirian bersama Tuhan. "Keramaian tidak mengganggu saya. Sepanjang waktu saya selalu bersama Tuhan," kata dia.
Liva mengaku tak hanya berdoa untuk dirinya saja. Dia bahkan menyelipkan doa untuk keselamatan rakyat Palestina. "Saya selalu berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan saudara-saudara saya di Gaza dari Israel," tutur Liva. (Dream.co.id)