Select Menu

ads2

ads2

Slider

slogan

slogan

Berita Haji dan Umroh

Informasi Jamaah Haji 2014

Alumni Sahara Kafila

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila


Pesawat Boeing 747-400 milik penerbangan Saudi Airlines mendarat mulus di Bandara Prince Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah. Kulihat jam-ku: pukul 16.20 WIB. Setelah terbang selama hampir sepuluh jam, burung besi dengan 450 penumpang ini mendarat di kota suci Madinah. Di antara penumpang itu, kulihat wajah seorang alim yang sangat sering tampil di TV, ya dialah Professor Quraish Shihab. Bersama ratusan jamaah umrah ini, beliau berbaur dalam antrian sejak di bandara Soekarno – Hatta tadi subuh. Kami berangkat dari Jakarta jam 07.00pagi dan baru tiba pukul 12.20 Waktu Arab Saudi atau 16.20 WIB.

Airport Madinah memang tak seramai King Abdul Aziz International Airport di Jeddah. Pemeriksaan imigrasi juga tak seketat di Jeddah. Begitu keluar bandara, angin sisa-sisa musim dingin berhembus. Sejurus kemudian, saya teringat ucapan Rasulullah tentang kota ini. Jika ada seseorang yang mengeluh pada Rasulullah SAW karena sakit atau luka, beliau meletakkan tangannya di tanah kemudian mengangkatnya (sambil berkata): Dengan Nama Allah, tanah kami yang baik ini, semoga dapat menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara kami dengan izin Tuhan kami (Shahih Muslim). Debu yang dimaksud dalam hadits ini bersifat umum dan berlaku di seluruh Madinah, sedangkan riwayat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah debu Shu’aib di Bathan adalah dhaif (lemah).

Subhanallah, betapa mulianya kota ini. Pantas dia dinamakan Madinatur rasul, kota Rasulullah. Kami menuju hotel tempat kami menginap; New al-Ansar Diamond di kawasan ring ke-tiga kota ini. Tata kota Madinah memang sangat mudah dihafal. Setiap hotel dibagi berdasarkan jalan lingkaran (ring). Ring satu ada hotel-hotel bintang seperti Obroi, Movenpick, Hilton dan lainnya. Ring dua hotel sekelas di bawahnya. Demikian seterusnya. Jadi, jika Anda hendak umrah, tanyakan saja pada penyelenggara, di ring berapa hotel kami. Bila dikatakan di luar ring empat, dapat dipastikan hotelnya akan jauh dari Masjid Nabawi.

Sesungguhnya, bangunan hotel di kota ini relatif sama. Tinggi dan luasan hotelnya pun sama. Yang membedakan adalah manajemen pengelolanya. Hotel-hotel berbintang dikelola oleh manajemen internasional seperti Obroi, Movenpick dan Hilton. Padahal, ukuran kamarnya relatif sama.

Makan daging unta membatalkan wudhu
Madinah adalah kota Rasulullah. Secara fiqih, kota Madinah sangat dominan mazhab Hambali. (pengikut imam Ahmadbin Hanbal). Di kota ini, kata Imam Hanbali, perilaku para sahabat nabi dapat menjadi hujjah fiqhiyah. Maksudnya, perilaku sahabat dapat menjadi alas pembentukan fiqih Islam.

Masyarakat penganut Hambali cenderung literalis dalam memahami hadits Nabi. Ada satu kejadian, di mana Rasulullah SAW ditanya, “apakah kami harus berwudhu setelah makan daging kambing.” Rasulullah SAW menjawab, “Jika kau suka, (silakan) berwudhu, jikapun tidak (tak apa).” Sahabat itu kemudian bertanya lagi, “apakah kami harus berwudhu setelah makan daging unta.” Rasulullah menjawab, “Ya.”

Berdasarkan teks hadits ini, penganut Mazhab Maliki dan Hambali mengatakan bahwa mengkonsumsi daging unta membatalkan wudhu. Mereka mengambil pada teks hadits Nabi yang berbunyi demikian. Sementara mazhab Hanafi dan Syafi’i menyatakan tidak membatalkan wudhu. Maksud dari hadits itu, kata mereka, adalah karena mengkonsumsi daging unta cenderung menaikkan suhu tubuh, membuat mudah buang angin. Itu sebabnya Nabi mengatakan wajib wudhu setelah makan daging unta. Pendapat mana yang paling shahih? Wallahua’lam.

Saya tidak pernah makan daging unta, dan tak kuasa untuk mencobanya. Mungkin juga sebagian besar masyarakat Indonesia. Di Madinah ini, konon, catering menyediakan gulai unta meski sampai hari ini saya belum melihatnya. Saya kira karena daging unta panas, — dan mudah membuat penikmatnya pergi ke belakang – maka ia adalah penyebab batalnya wudhu.

Hajar Jahanam, Mas? Begini!
Agenda hari kedua adalah ziarah keliling kota Madinah. Meski telah seringkali mengikuti paket ziarah seperti ini, saya selalu tertarik untuk merekamnya dalam memori catatan perjalanan. Mengapa? Sebab, Meski Rasulullah SAW lahir di kota Mekkah, perjuangan fisik beliau SAW sesungguhnya terjadi di Madinah. Rasulullah SAW tercatat melakukan 30 kali peperangan selama bermukim sepuluh tahun di Madinah. Perang paling monumental tentu saja perang Badar, Uhud, Khaibar dan Khandaq. Meski yang disebut terakhir, — perang Khandaq – sejatinya hanyalah psywar (perang urat syaraf) yang tak melahirkan pertumpahan darah.

Pagi-pagi sekali jamaah sudah bersiap. Bus pun datang relatif tepat waktu. Sopirnya ternyata orang Bojonegoro. Saya bertanya berapa lama sudah bekerja di Madinah, dengan enteng dia menjawab, “baru empat tahun, Pak.” Empat tahun baru?
Sejurus kemudian, bis sudah dipenuhi jamaah. Seperti umumnya ziarah kota (city tour), kali ini kami akan dipandu oleh Mas Zubair, mahasiswa Indonesia asal Manado yang tengah menimba ilmu di Universitas Islam Madinah. Saya selalu senang melihat mahasiswa seperti Mas Zubair ini. Di sela kesibukan kuliah dan menuntut ilmu, dia masih sempat mengais rezeki. Beginilah seharusnya para mahasiswa. Tidak melulu menunggu kiriman dari orang tua.

Sebelum bis berangkat, seorang pedagang asongan naik ke bis. Jangan dikira ini pedagang asongannya orang Arab. Bukan. Ini khas Indonesia, yang naik ke bis pun orang Indonesia. Dari logatnya bicara, sepertinya dari sekitar Jawa Timur. Dia menawarkan hati unta. Konon, hati unta dapat menjadi penawar atas berbagai penyakit, terutama asma.
Terus terang, saya paling tidak tertarik dengan model dagangan begini. Soalnya sederhana. Tak pernah ada penelitian tentang hati unta sebagai obat asma. Lagi pula, caranya berjualan persis pedagang asongan di terminal Baranangsiang Bogor. Tiba-tiba saja di pangkuan kita ada dagangannya. Minat juga nggak kok.

Saya mengembalikan sekantong hati unta seraya mengucapkan maaf dan terima kasih. Bapak itu tersadar bahwa saya kurang suka dengan dagangan hati unta ini. Tapi, kemudian, dia mengeluarkan dagangan lainnya. Terlihat sembunyi-sembunyi menawarkannya. “Mas, hajar jahanam… Begini!” Hah!

Kali ini pedagang itu menawarkan sambil mengangkat ibu jarinya. Menunjukkan oke punya. Aduh, Pak. Jauh-jauh ke Madinah masa mencari barang beginian. Dia nyerocos menjelaskan kehebatan hajar jahanam. He… dari nama obatnya saja sudah seram: “batu neraka”. Mengapa sih, obat kuat harus dijual di Madinah. Setelah berkali-kali membujuk saya, dengan halus saya katakan pada penjual “batu neraka” itu bahwa saya datang umrah sendirian, bukan untuk belanja obat kuat. Dia lalu paham dan pergi. He…

Objek ziarah yang pertama kami kunjungi adalah pemakaman Baqi. Di kompleks pemakaman ini dimakamkan para istri dan sahabat Nabi, termasuk Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Sedangkan Abu Bakar dan Umar bin Khattab dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah SAW.

Pemakaman Baqi’ pada awalnya adalah pemakaman umum untuk semua pemeluk agama, termasuk pemeluk Yahudi. Maklum kota Madinah sebelum kedatangan Rasulullah SAW adalah kota kaum Yahudi yang bernama Yatsrib. Baru pada era Dinasti Ummayah, Baqi’ dikhususkan bagi kaum muslimin saja, terutama setelah kuburan Utsman bin Affan diletakkan berdekatan dengan kuburan kaum Yahudi.

Pemakaman Baqi’ juga disebut sebagai Jannatul Baqi’ atau Baqi’ul Qarqad yang berarti “kebun dari pohon Boxtrhorn”. Mungkin di tempat itu pada awalnya banyak pohon Qorqod sehingga, dalam hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa pada akhir zaman Yahudi banyak menanam pohon Qorqod (Boxtrhorn) itu. Jadi, pohon Qorqod adalah pohon kuburan yang tumbuh di Madinah sejak sekian abad lalu.

Kini, Baqi’ tentu saja tandus. Tak ada batu nisan pada kuburan kecuali batu-batu sebesar kepalangan tangan yang menandakan adanya kuburan di bawah sana. Dari kejauhan, kami melihat peziarah Iran asyik bergerombol di Baqi’. Saya tidak tahu persis mengapa mereka senang menziarahi Baqi’. Mungkin, sekali lagi mungkin, sebab di dalamnya terdapat kuburan Fathimah, putri Rasulullah SAW, yang menjadi idola kaum wanita Syiah Iran.

Bukit Uhud
Setelah selesai di Baqi’, kami melanjutkan perjalanan ke kebun kurma. Sesungguhnya, kebun kurma dimaksud lebih merupakan pabrik produksi kurma. Kami menuju perkebunan Abu Ayman. Saya tak mau bercerita panjang tentang belanja kurma, sebab – tahu sendirilah – orang Indonesia paling senang jika belanja, dan lebih senang lagi jika boleh mencicipi barang belanjaannya.

Untunglah, para pedagang di perkebunan kurma ini tidak ambil pusing. Mereka asyik saja saat ratusan jamaah umrah Indonesia seakan menjarah kurma-kurma mudanya itu. Terus terang, saya lebih tertarik untuk menceritakan kurma-nya. Sebab, kurma-kurma di Madinah dikenal top, bahkan – dalam suatu hadits – Rasulullah mengatakan, “barang siapa yang memakan tujuh butir kurma (ajwa) pada pagi hari, dia tidak akan keracunan atau terkena sihir hingga malam hari.”

Kurma sesungguhnya adalah makanan pokok (staple food) orang-orang Arab zaman dulu, jauh sebelum Islam datang. Mereka tak mengenal nasi dan gandum. Seperti halnya orang-orang Yunani yang menjadikan buah zaitun dan orang–orang Romawi menjadikan buah tiin sebagai makanan utama mereka. Karena itu, kita mendapati ayat Al-Qur’an tentang buah tiin dan buah zaitun, sebab kedua buah itu sudah menjadi makanan pokok suatu kelompok masyarakat di zamannya.

Kembali pada kurma, bagi jamaah umrah (dan haji), kurma favorit untuk oleh-oleh biasanya kurma ajwa. Sering dibilang sebagai “kurma Nabi”. Kurma jenis ini harganya mahal. Bisa mencapai 120 riyal per-kilo. Ajwa sebetulnya adalah nama sebuah lembah (wilayah) di Madinah. Dari lembah ini memiliki produksi kurma yang bagus, dan kebetulan, digemari Nabi.

Selesai dari kebun kurma, kami menuju bukit Uhud. Sejatinya, bukit Uhud sudah hampir rata dengan tanah. Setiap kali melihat Uhud, saya teringat heroisme yang ditunjukkan oleh salah satu sahabat Nabi. Ya, dia adalah Thalhah bin Ubaidilah. Pada perang Uhud, 70 sahabat Nabi gugur. Bahkan, Rasulullah SAW sudah terdesak hingga beliau terus naik ke bukit Uhud. Di saat demikian, ada dua sahabat nabi yang terus setia menjaga beliau. Salah satunya adalah Thalhahbin Ubaidillah.

Pada detik-detik kritis itu, Thalhah berhasil mengalahkan sepuluh orang kafir Mekkah yang mengejar Rasulullah SAW. Jika disebut perang Uhud, Abu Bakar selalu mengatakan, “itu perang Thalhah.” Ya, demikianlah, sebab Rasulullah SAW berkata, “Barangsiapa yang ingin melihat seorang syahid dan masih berjalan di atas muka bumi, lihatlah pada Thalhah.”

Bahan Bakar Minyak yang sangat murah
Setelah tiga malam berada di Madinah, agenda hari ini adalah perjalanan umrah ke Mekkah. Inilah inti dari perjalanan ibadah kali ini. Ya, umrah. Sebagian jamaah sudah mulai bersiap-siap. Koper sudah dirapikan. Belanja selama di Madinah mulai dikemasi. Ziarah ke makam Rasulullah SAW untuk pamitan pun sudah dilaksanakan. Secara fiqih, tak ada “pamit pada Nabi”, tapi kalau kita sedang di Madinah, dan mau pergi meninggalkan kota itu, rasanya tak sempurna jika tak ziarah dulu ke makam Rasulullah SAW.

Perjalanan ke Mekkah akan ditempuh dalam waktu enam jam. Jarak Madinah – Mekkah sekitar 450 KM. Namun, para supir di sini dimanjakan oleh jalanan yang mulus, tidak macet (bukan seperti tol dalam kota Jakarta) dan harga bahan bakar yang murah.
Harga solar dijual dengan sangat murah. Satu riyal Saudi dapat membeli empat liter solar. Bensin pun dijual dengan harga relatif murah. Satu riyal dapat membeli dua setengah liter. Kualitas bensinnya di atas pertamax, bro.

Sopir yang mengemudikan bus rupanya orang Bandung. Asyik-lah, sepanjang perjalanan dia berbagi informasi seputar seluk beluk dunia persopiran di Saudi ini. Kang Pepen, berangkat ke Mekkah sekitar empat tahun lalu. Awalnya dia sopir bis PPD. Menurutnya, sejak ada trans-Jakarta, PPD menurun drastis. Maka, dia banting setir. Buru-buru menghubungi familinya yang ada di Saudi Arabia ini untuk mendapatkan pekerjaan barunya. Subhanallah, sebuah perjuangan yang tidak ringan, sebab dia hanya pulang dua tahun sekali.

Di sela-sela talbiyah (terutama saat jamaah umrah mulai tertidur), saya asyik ngobrol dengan sopir. Menurutnya, mengemudi di Saudi bukan sesuatu yang sulit, meski pada awalnya dia harus berlatih agar terbiasa mengendarai mobil stir kiri. Maklum, aturan lalu lintas di Saudi Arabia ini adalah lajur kanan.

Masjidil Haram yang tengah direnovasi.
Labaik Allahuma Labaik…. Sampailah kami di Mekkah. Ketika mobil mengakhiri jalur cepat dan masuk ke jalur kota, hal yang pertama terlihat adalah jam besar warna hijau di puncak gedung pencakar langit, Zam-Zam tower. Sebenarnya, nama gedung itu bukan Zam-Zam tower, tetapi oleh masyarakat Indonesia dikenal demikian. Kompleks ini bernama asli Abraj al-Bait, ia merupakan kompleks hotel dan shopping mall yang merupakan wakaf dari raja Abdul Aziz. Tertulis dengan jelas di bagian atas gedung itu. Kompleks ini sendiri dibangun oleh Saudi Bin laden Group, raksasa kontraktor Arab Saudi.

Sesampainya di Mekkah, kami langsung tawwaf. Sebagian jamaah langsung sujud syukur ketika pertama kali melihat Ka’bah. Ya, sungguh mengharukan saat pertama melihat Ka’bah. Betapa tidak, inilah kiblat yang sehari semalam menjadi acuan shalat lima waktu kita. Betapa tidak, inilah rumah ibadah paling tua yang ada di muka bumi. Betapa tidak, inilah kiblat yang dibangun sejak zaman Nabi Adam, ditinggikan oleh Nabi Ibrahim dan diteruskan oleh Rasulullah SAW.

Mulanya, kami berfikir untuk mendorong jamaah yang menggunakan kursi roda di lantai dua.

Rupanya, renovasi Masjidil haram membatalkan hal itu. Masjid tengah direnovasi hingga lantai dua terputus. Pada bagian atas sekitar Sofa-Marwa kini dirombak habis, terus ke bagian atas arah (dulu) Sofitel. Perluasan ini nampaknya untuk menampung jamaah haji yang tiap tahun terus meningkat.

Secara fiqih, perluasan Masjidil haram memang mengharuskan ijtihad para ulama. Bayangkan, tempat sai kini diperlebar (karena tidak mungkin diperpanjang). Bayangkan jika dua juta orang di musim haji bersai di tempat yang kecil. Sesuatu yang dapat menimbulkan korban jiwa.

Dalam hal ijtihad ini, para ulama Saudi tergolong radikal. Tempat jamaraat (lemparan batu) di sekitar Mina juga sudah sangat lebar. Berbeda sekali dengan tahun 90-an di mana “setan” yang dilemparinya masih kecil. Kini, “setan”nya sudah besar, hingga dari arah mana saja jamaah dapat menyambit tiang jamaraat itu.

Harga rupiah pun jatuh
Bagi saudara-saudara saya yang akan menunaikan ibadah ke tanah suci, sebaiknya membeli mata uang dollar atau Saudi riyal di Indonesia. Jika Anda membawa rupiah, terlalu sakit untuk menukarkannya di Money Changer (sharf) Saudi. Mereka membeli rupiah satu juta dengan 360 riyal. Padahal uang sebanyak itu bisa kita belikan dollar di Jakarta sebanyak 105 dollar. Jika uang dolar itu Anda jual di Saudi, Anda bisa dapat 380 riyal. Lumayan lho, 20 dollar selisihnya, bisa buat beli satu baju ghamis Maroko atau beli minyak wangi hajar aswad sebagai oleh-oleh.

Kali ini, kami menginap di hotel Ad-Dzahabi, kawasan Misfalah. Jarak antara hotel dengan Masjidil haram sekitar satu kilometer. Satu kilometer itu jauh jika di Jakarta. Sebab, kita terbiasa dengan kendaraan alternatif. Becak, angkot dan ojek. Di Mekkah, satu kilometer adalah jarak yang sangat tolerable. Kami berjalan kaki dari hotel ke Mekkah seperti tak pernah ada masalah. Barangkali, salah satu faktornya, adalah semangat yang memotivasi setiap jamaah untuk shalat di Masjidil Haram. Dalam satu haditsnya, Rasulullah SAW diriwayatkan pernah berkata, “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi), bernilai seribu kali (dibanding masjid lain), dan shalat di Masjidil Haram bernilai seratus ribu kali dari tempat lainnya.” Bayangkan, seratus ribu kali!

Sesungguhnya, hotel-hotel di Mekkah ini menjadi semakin jauh sejak Masjidil Haram terus diperlebar. Hanya hotel-hotel bintang lima saja yang sangat dekat dengan Masjidil Haram. Hotel itu, antara lain, Darut Tawhid Interconinental Hotel, Hotel Hilton, dan Kompleks Zam-Zam Tower. Semua hotel-hotel yang saya sebutkan itu adalah hotel-hotel bintang lima. Harganya pun pasti berbeda dengan hotel-hotel bintang empat atau kelas melati.
Maka, jika Anda berangkat umrah dengan biaya minimalis, lalu dijanjikan akan menginap di hotel bintang lima, percayalah bahwa semua itu hanya janji kosong.

Umrah dan Haji sebagai industri.
Ibadah umrah (dan haji) kini telah menjadi industri pariwisata yang tak pernah sepi. Diakui atau tidak, bagi kerajaan Arab Saudi, devisa yang didatangkan dari umrah (dan haji) sungguh besar (meski tidak signifikan untuk neraca keuangan negara itu). Setiap tahun, ada sekitar seratus ribu orang Indonesia menunaikan ibadah umrah. Bayangkan jika setiap orang membelanjakan lima ratus dollars, berapa devisa yang didapat oleh kerajaan Arab Saudi.

Umrah dan haji adalah industri. Jika industri itu dipahami sebagai bagian dari menuju kenyamanan beribadah, tentulah tak ada masalah. Bahkan, dalam doa yang kita lafalkan untuk kemabruran haji, antara lain kita melafalkan, “perdagangan yang tidak merugi.” Artinya, memang sejak awal umrah dan haji memiliki potensi industri pariwisata.
Demikian catatan singkat ini, semoga bermanfaat.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/01/32425/catatan-perjalanan-umrah-2013-labbaik-allahuma-labbaik/#ixzz3MDIYfmVw 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Mendengar berita bahwa jamaah haji sudah mulai diberangkatkan membuat kita ada keinginan hati; kapan saya mendapat giliran diundang Allah ke Mekkah Al-Mukarromah?
Haji, rukun islam kelima kita, adalah salah satu ibadah yang menjadi impian banyak muslim. Ibadah yang begitu membekas dan bermakna bagi mukmin yang bersungguh-sungguh menjalankannya. Nilai pahalanya pun juga luar biasa besar di sisi Allah. Wajar jika tidak semua orang mampu segera melaksanakannya. Berikut adalah tips-tips agar insya Allah dapat segera naik haji berdasarkan beberapa sumber dari ustadz kita.
  1. Berniat kuat (ber-azzam) untuk melaksanakan haji. Azzam berarti kebulatan tekad, tidak hanya sekedar niat yang diucapkan di mulut atau ‘numpang’ lewat di pikiran atau hati saja.

  2. Pelajari cara-cara melakukan ibadah haji (manasik haji). Pengetahuan yang benar akan memperkuat niat dan keinginan kita untuk segera melaksanakannya.

  3. Perbanyak berdoa dan panjatkanlah secara rutin setiap saat, misalkan setiap selesai sholat fardhu maupun sunnah.

  4. Jangan lupa doakan selalu orang tua kita. Ingatlah bahwa anak yang sholeh sangat dicintai Allah sehingga insya Allah akan dimudahkan-Nya dalam mencapai segala keinginan kita.

  5. Selalu berbaik sangka-lah (ber-husnudzon) kepada Allah SWT. Jangan mudah putus asa. Jalanilah kehidupan dengan sabar dan yakinlah bahwa Allah SWT akan selalu memberikan pertolongan

  6. Mulailah menabung sekarang juga, berapapun juga! Buktikan pada Allah SWT bahwa kita bersungguh-sungguh ingin menjalankan perintahnya. Insya Allah, Allah SWT akan menolong kita dari arah yang tak terduga. Gunakan jasa tabungan haji di bank Syariah atau lembaga haji lainnya. Pilihlah tabungan haji yang tidak mudah dicairkan dan memiliki target minimum pendaftaran haji, agar niat kita terjaga.

  7. Perbanyaklah beramal. Jangan hanya menabung di bank syariah, tapi ‘tabunglah’ amal kita kepada anak-anak yatim, fakir miskin, baitul mal, gelandangan dan mesjid-mesjid.

  8. Jalankanlah sebaik mungkin segala perintah-Nya dalam Islam dan jauhi maksiat. Jika kita meminta sesuatu pada seseorang, kita akan berusaha menyenangkannya, bukan? Begitu juga jika kita meminta sesuatu pada Allah SWT, kita harus menyenangkan-Nya dengan menjalankan apa yang disukai-Nya dan menjauhi segala yang dibenci-Nya.
Semoga kita dimudahkan-Nya untuk melaksanakan ibadah haji dan mampu mendapatkan gelar haji mabrur. Gelar yang akan selalu kita sandang di dunia dan di akhirat. Amin yaa rabbal ‘alamiin. (pm/cara-muhammad/nabawia.com)



Pada tanggal 1-2 November 2014, yang bertempat di PP. PON Cibubur Jakarta-Timur, PT. Sahara Kafila Wisata melaksanakan workshop Pembimbing/Tour Leader.

Workshop Pembimbing/Tour Leader ini dihadiri oleh Komisaris, Direktur Utama, Karyawan PT. Sahara Kafila Wisata, Asatidz dari Pondok Pesantren Kafila International Islamic School, Perwakilan PT. Sahara Kafila Wisata yang berasal dari Jakarta, Bekasi, Cirebon, Tegal, Kudus, Jepara, dan Salatiga. Keseluruhan peserta berjumlah sekitar 40 orang.

Adapun maksud dan tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk standarisasi pembimbing/Tour Leader dalam menyamakan konten bimbingan yang menitik beratkan pada Hati, Cinta dan Syukur hingga sampai kepada level II yaitu penghayatan akan makna. Dengan level II ini diharapkan para jamaah PT. Sahara Kafila Wisata bisa merasakan sensasi napak tilas Makkah-Madinah serta perjuangan Nabi Saw. Keluarga dan para sahabat. Inilah yang membedakan dengan level I yang hanya menitik beratkan pada standar pelayanan kepuasan jamaah akan fasilitas dan akomodasi selama perjalanan umrah.

Dihari pertama tanggal 1 November 2014, acara diawali dengan tes tertulis tentang kepemimpinan dan pengetahuan Makkah-Madinah. lalu dilanjutkan dengan pembukaan oleh pemandu acara, sambutan dari management serta pemaparan Laporan Evaluasi Level I, di sesi selanjutnya para peserta dibekali dengan teori dan tehnik pengkondisian jamaah untuk sampai kepada level II. Kemudian ditutup dengan pembentukan komisi yang membahas tentang konten manasik, yang diketuai oleh KH. Sulhan Abu Fitra MA. (Komisi Fatwa MUI Pusat) dan Komisi Perjalanan Makkah-Madinah yang diketuai oleh KH. Hanifuddin Abdullah MM. (Pengasuh Yayasan Al Madaniyah Tegal).

Sedangkan dihari terakhir para peserta melakukan pelatihan  tentang bimbingan penghayatan makna perjalanan umrah mulai dari keberangkatan sampai dengan kepulangan. Semoga para Pembimbing/Tour Leader dapat memadukan level I dan II sehingga bisa bersikap profesional, bisa mencerahkan, dan bisa memberikan perubahan terhadap sikap mental jamaah umrah ke arah yang lebih baik. Amiin


















Jemaah tua dan berisiko tinggi naik mobil golf di bandara (dok. Media Center Haji)
Siapa Icha? Penasaran? Icha, adalah panggilan untuk petugas haji bernama Risa Ariyani. Sejak kedatangan hingga kepulangan jemaah, waktunya dihabiskan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Icha spesialisasi jemaah tua dan berisiko tinggi.

Bersama rekan duetnya, Elis, Icha biasa mengurus jemaah haji tua dengan berbagai kondisi. Begitu melihat jemaah tua, keduanya akan sigap membantu, seperti menggantikan baju, mengganti pampers, memandikan, membersihkan kotoran di tubuh jemaah dan sebagainya. Icha dan Elis dengan sabar dan senyum menghadapi jemaah.
"Saya nggak pernah berpikir macam-macam, pokoknya membantu. Pengalaman tugas ini tidak akan terlupakan," kata Icha menceritakan suka dukanya sebagai petugas haji.

Meski tidak menuntut balas, ternyata banyak jemaah yang teringat akan dedikasinya. Icha bercerita, beberapa hari sebelum berakhirnya operasional haji, ia membantu jemaah packing untuk menghadapi sweeping oleh petugas maskapai Garuda Indonesia.

"Saya lihat ada ibu-ibu sedang tiduran, kakinya dinaikkan dan disandarkan ke kursi rodanya. Suaranya lirih manggil-manggil mbak... mbak...," tutur Icha.

Icha kemudian didatangi anak si ibu yang mendampingi selama di tanah suci. "Dia tanya, mbak masih ingat nggak, ibu saya panggil-panggil mbak," kata Icha yang kemudian mendatangi si Ibu.

Begitu bertemu muka, si ibu dengan susah payah mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya karena pernah memandikannya saat baru tiba di bandara dan membantunya memakaikan baju ihram.

"Ibu itu lalu bilang, 'mana ada yang mau mandiin saya'," kata Icha. Sang anak lalu bercerita, bahwa ibunya selalu terkenang dedikasi petugas yang memandikannya. Bahkan, pengalaman itu ia ceritakan ke setiap jemaah yang ditemuinya selama beribadah haji. "Katanya, nggak menyangka ada petugas yang mau memandikannya. Kata anaknya, si ibu selalu berdoa supaya ketemu saya lagi sebelum pulang. Mau nyium. Doanya kesampaian," kata Icha yang sempat ditugaskan di tempat lain sebelum kembali ke bandara. Icha sendiri terenyuh dengan perlakuan jemaah itu terhadapnya.

Pengalaman lainnya yang kerap membuat ia terenyum sendiri jika mengingatnya adalah melayani jemaah yang tidak bisa berbahasa Indonesia. "Setengah mati kadang mikir apa yang diomongin jemaah. Biasanya jemaah asal Aceh atau Lombok. Kalau jemaah Ujung Pandang lain lagi, nggak mau ganti baju di kamar mandi, kekeuh di tempat tunggu yang terbuka," kata dia.

Petugas lain, Junaedi Hasan Yusuf, punya pengalaman lain dengan jemaah. Kebetulan dia ditempatkan di bagian katering. Tapi saat kepulangan ia sering dimarahi dan dikomplain jemaah yang tidak diajak city tour di Jeddah.

"Begitu datang, jemaah marah-marah, kok nggak diajak ziarah dan sebagainya," kata dia.

Terkait tugasnya sendiri di bagian katering, menurut Junaedi, secara keseluruhan berjalan lancar, hanya sesekali saja katering terlambat atau nasinya kurang, sehingga membuat jemaah resah. "Kalau sudah begini kita kalang kabut," kata dia. (Viva.co.id)

Inilah bukti kesempurnaan islam, agama manakah selain islam yang mempunyai kiblat dalam beribadah ???. Mereka tidak mempunyai kiblat, baik kiblat ibadah, kiblat suri tauladan, kiblat ajaran dan hukum dll, maka pantaslah mereka menjadi umat yang kebingungan.
Ada beberapa kalangan di luar Islam yang mereka tidak faham, tidak mengerti tentang Islam, mereka berkata : “Lihatlah orang-orang Islam, mereka menyembah ka’bah !”

Hadits Umar bin Khathab Mengenai batu hitam, hajar aswad

Umar bin Khathab berkata, “Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari)

Ka’bah hanyalah benda mati, ia hanya dijadikan oleh Allah Jalla wa ‘Ala sebagai kiblat umat muslim dalam ibadah khususnya sholat dan haji.Perkataan atau ucapan mereka ini didasari atas mereka melihat kaum muslimin ketika sholat menghadap ke arah ka’bah, lalu mereka berkesimpulan : orang Islam menyembah ka’bah.

Terhadap ucapan jelek mereka ini kita jawab : Sesungguhnya orang-orang Islam hanya menjadikan Ka’bah sebagai arah hadap dalam menyembah Allah, bukan menyembah ka’bah. Sebagaimana firman Allah Subhanallah Ta’ala :

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

“Hendaklah mereka menyembah kepada Tuhan, Allah ta’ala, Tuhan Yang memiliki Rumah ini, Yang memiliki Ka’bah.”

(Kitab Suci Alqur’an. Quraisy : 3)

Ayat diatas bermakna dan mempunyai pengertian bahwa baitullah (ka’bah) adalah benda milik Allah Subhanallah Ta’ala, dan Allah Ta’ala memerintahkan untuk menyembah pemilik ka’bah !!

Ka’bah sendiri berarti kubus persegi empat yang dalamnya kosong, tidak ada apa-apanya. Adapun Hajar Aswad ada di pojokan luar ka’bah, bukan ditengah-tengah ka’bah. Kemudian fungsi Ka’bah hanyalah sebagai arah hadap, karena Qiblat artinya arah hadap

Dapat dibayangkan andaikata umat Islam tidak punya arah qiblat, maka bagaimana sholat jama’ah mereka ? Imamnya ingin ke utara, makmumnya mungkin ada yang ingin ke selatan, ada yang ingin ke barat, bisa berantakan sholat jama’ahnya. Supaya orang Islam berada di dalam satu kesatuan dengan persatuan yang kuat ketika mereka menyembah Allah Subhanallah Ta’ala, maka Allah Subhanallah Ta’ala menetapkan arah qiblat. Dan ini bukan berarti orang Islam menyembah Ka’bah. Walaupun mereka menghadap ka’bah tetapi ini bukan berarti orang Islam menyembah ka’bah. Kenapa ? Karena orang Islam hanya menjadikan ka’bah sebagai pematok arah. Karena yang namanya pematok arah tidak akan sempurna kalau tidak terlihat. Maka dibangunlah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ka’bah sebagai pematok arah supaya orang melihat : ke arah sana, ke arah ka’bah hendaknya kaum muslimin seluruh dunia menyatukan arah.

Maka kaum muslimin diperintahkan menghadap ke arah yang sama dengan satu patok yang sama, yaitu ka’bah. Bukti kalau orang Islam tidak menyembah ka’bah yaitu sebelum orang Islam menyembah Allah Subhanallah Ta’ala dengan menghadap ke arah ka’bah, lebih dahulu Allah Subhanallah Ta’ala memerintahkan mereka menghadap ke arah Baitul Maqdis. Jadi kita, pada awal-awal Islam, kita diperintahkan menyembah Allah Subhanallah Ta’ala dengan menghadap kearah Baitul Maqdis yang ada di Palestina. Ini pada awal-awal Islam. Sampai kemudian turun ayat akibat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dicemooh oleh orang-orang Yahudi : Lihatlah orang-orang Islam, mereka mengikuti qiblat kami !” kata orang-orang Yahudi. Ini membuat Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam selalu meminta kepada Alloh berkali-kali : Ya Allah, Ya Allah. Meminta agar dipalingkan, dikembalikan qiblatnya, arah hadapnya ke Baitulloh, ke Ka’bah, ke Masjidil-Haram.

Andaikata orang Islam, Rasululloh dan kaum muslimin menyembah ka’bah, tidak perlu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam minta ijin meminta kepada Alloh, bahkan berkali-kali agar dapat dihadapkan kembali ke MasjidilHaram, sebagaimana pada zaman Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas-salaam. Sampai akhirnya Allah Subhanallah Ta’ala turunkan ayat :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِيالسَّمَاءِ

“Kami sering melihatmu, kata Allah Subhanallah Ta’ala : Kami sering melihatmu membolak-balikkan wajahmu ke langit, ” Apa artinya ? Kami sering melihatmu hai Muhammad – shollallohu ‘alaihi wa sallam – membolak-balikkan wajahmu ke langit,yaitu memohon kepada Allah. Ini, Rasul harus memohon berkali-kali agar bisa dihadapkan kembali ke MasjidilHaram. Andaikata Rasul menyembah ka’bah, orang Islam menyembah ka’bah, tidak perlu memohon kepada Allah Subhanallah Ta’ala agar dipindahkan arah qiblatnya ke Baitullah.

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Maka sekarang hadapkanlah wajahmu ke arah mana, qiblat mana yang kamu ridhoi.”

Allah kabulkan permohonan Nabi setelah Nabi berulang-ulang memohon kepada Allah

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِالْحَرَامِ

“Maka sekarang hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Allah Subhanallah Ta’ala memerintahkan kaum muslim untuk menghadapkan diri dalam beribadah kearah Masjidil Haram, dan Ingat bahwa Allah tidak pernah menyuruh umatnya untuk menyembah Ka’bah, hanya menghadap. Hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. Jadi terbukti bahwa Ka’bah hanya sebagai arah hadap kaum muslim untuk menyembah Allah Subhanallah Ta’ala. Bukti lain bahwa Ka’bah hanya sebagai arah hadap kaum muslim dalam beribadah ialah bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya pernah melakukan ibadah sholat didalam Ka’bah.

Dicontohkan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam : Rasul masuk ke dalam Ka’bah, lalu menjadikan pintu Ka’bah di belakang punggungnya, yang artinya, berarti Hajar Aswad ada pula di belakang sebelah kiri beliau. Lalu beliau sholat di dalam Ka’bah dengan menghadap ke arah mana beliau menghadap, yaitu ke arah depan, yaitu sejarak 3 hasta dari depan, 3 hasta dari tembok depan, kemudian Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam berhenti dan sholat di situ. Demikian pula para shahabat Nabi, mereka sholat di beberapa pojokan-pojokan Ka’bah. Dan ini tidak menjadi masalah. Ke arah mana pun mereka menghadap ketika mereka di dalam Ka’bah, mereka ada di arah qiblat. Sehingga ke mana pun mereka menghadap, tidak masalah.

Ka’bah adalah ruang kosong, sehingga sholat didalam Ka’bah berarti ia sholat persis di arah Ka’bah, atau di arah qiblat. Ini menjadi dalil bahwasannya kaum muslimin tidakmenyembah Ka’bah, karena boleh saja orang Islam sholat di dalam Ka’bah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan shahabatnya.

Andaikata kita, Nabi, Kaum Muslimin menyembah Ka’bah, tidak boleh mereka sholat di dalam Ka’bah.

Begitu pula Rasulullah SAW melarang para shahabat Nabi bersumpah dengan mengatakan : WAL-KA’BAH “Demi Ka’bah.” Rasul melarang. Rasul mengganti dengan WA ROBBIL-KA’BAH “Demi Tuhan Yang memiliki Ka’bah !” Karena tidak boleh bersumpah dengan selain nama Allah Subhanallah Ta’ala.

Ka’bah adalah qiblat, yaitu arah kaum muslimin menghadap dalam shalat mereka. Perlu dicatat bahwa walaupun kaum muslimin menghadap Ka’bah dalam sholat, mereka tidak menyembah Ka’bah. Kaum muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah. Ketika mereka melakukan thawaf di Ka’bah atau mencium Hajar Aswad, itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Allah-lah yang memerintahkan kami kaum muslim untuk menyembah-Nya dengan cara seperti itu.

Islam menghendaki persatuan


Ketika kaum muslimin hendak menunaikan sholat, bisa jadi ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan.Untuk menyatukan kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah maka kaum muslimin dimana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka’bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka’bah, mereka sholat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka’bah, mereka menghadap barat.

Ka’bah adalah pusat peta dunia

Kaum muslimin adalah umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka’bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, alhamdulillah, Ka’bah terletak di tengah-tengah peta.

Tawaf keliling Ka’bah untuk menunjukkan keesaan Allah

Ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka’bah. Perbuatan ini melambangkan keimanan dan peribadahan kepada satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak disembah.

Orang berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan azan Pada zaman Nabi


orang bahkan berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Bisa ditanyakan kepada mereka yang menuduh kaum muslimin menyembah Ka’bah; penyembah berhala mana yang berdiri di atas berhala sesembahannya?

Berikut hadis pendukung bahwa Ka’bah hanya berfungsi sebagai arah kiblat dan pemersatu umat Islam :


Al-Barra’ mengatakan bahwa ketika Nabi SAW. pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah pada kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari kaum Anshar. Beliau melakukan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Tetapi, beliau senang kalau kiblatnya menghadap ke Baitullah. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: dan beliau ingin menghadap ke Ka’bah 1/104).

Shalat yang pertama kali beliau lakukan ialah shalat ashar, dan orang-orang pun mengikuti shalat beliau. Maka, keluarlah seorang laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau, lalu melewati orang-orang di masjid [dari kalangan Anshar masih shalat ashar dengan menghadap Baitul Maqdis] dan ketika itu mereka sedang ruku. Lalu laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku telah selesai melakukan shalat bersama Rasulullah saw dengan menghadap ke Mekah.”

Maka, berputarlah mereka sebagaimana adanya itu menghadap ke arah Baitullah [sambil ruku 8/134], [sehingga mereka semua menghadap ke arah Baitullah]. Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah saw. Shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit."

Lalu, beliau menghadap ke arah Ka'bah. Maka, berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, "Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" (Surat al-Baqarah - 143)].

Abdullah bin Umar berkata, “Pada waktu orang-orang sedang melakukan shalat subuh di Quba’, tiba-tiba mereka didatangi seseorang (untuk menyampaikan berita). Orang itu berkata, ‘Sesungguhnya, malam tadi telah diturunkan kepada Rasulullah saw. Al-Qur’an (yakni wahyu). Beliau diperintahkan shalat menghadap ke Kabah. [Maka ingatlah, menghadaplah kalian ke Kabah! 5/152].’ Mereka lalu menghadap ke Ka’bah, padahal waktu itu wajah mereka sedang menghadap ke Syam. Mereka lalu menghadapkan wajahnya ke Ka’bah.

Akhir kata, semoga Tulisan dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan Insya allah semakin menambah tingkat iman dan taqwa kita hanya kepada Allah Subhanallah Ta’ala. Amin Ya Robbal Alamin.

(nwr/pembongkaran)
Sumber : Nabawia.com