Select Menu

ads2

ads2

Slider

slogan

slogan

Berita Haji dan Umroh

Informasi Jamaah Haji 2014

Alumni Sahara Kafila

Video Perjalanan Umroh Sahara Kafila




Pada tanggal 1-2 November 2014, yang bertempat di PP. PON Cibubur Jakarta-Timur, PT. Sahara Kafila Wisata melaksanakan workshop Pembimbing/Tour Leader.

Workshop Pembimbing/Tour Leader ini dihadiri oleh Komisaris, Direktur Utama, Karyawan PT. Sahara Kafila Wisata, Asatidz dari Pondok Pesantren Kafila International Islamic School, Perwakilan PT. Sahara Kafila Wisata yang berasal dari Jakarta, Bekasi, Cirebon, Tegal, Kudus, Jepara, dan Salatiga. Keseluruhan peserta berjumlah sekitar 40 orang.

Adapun maksud dan tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk standarisasi pembimbing/Tour Leader dalam menyamakan konten bimbingan yang menitik beratkan pada Hati, Cinta dan Syukur hingga sampai kepada level II yaitu penghayatan akan makna. Dengan level II ini diharapkan para jamaah PT. Sahara Kafila Wisata bisa merasakan sensasi napak tilas Makkah-Madinah serta perjuangan Nabi Saw. Keluarga dan para sahabat. Inilah yang membedakan dengan level I yang hanya menitik beratkan pada standar pelayanan kepuasan jamaah akan fasilitas dan akomodasi selama perjalanan umrah.

Dihari pertama tanggal 1 November 2014, acara diawali dengan tes tertulis tentang kepemimpinan dan pengetahuan Makkah-Madinah. lalu dilanjutkan dengan pembukaan oleh pemandu acara, sambutan dari management serta pemaparan Laporan Evaluasi Level I, di sesi selanjutnya para peserta dibekali dengan teori dan tehnik pengkondisian jamaah untuk sampai kepada level II. Kemudian ditutup dengan pembentukan komisi yang membahas tentang konten manasik, yang diketuai oleh KH. Sulhan Abu Fitra MA. (Komisi Fatwa MUI Pusat) dan Komisi Perjalanan Makkah-Madinah yang diketuai oleh KH. Hanifuddin Abdullah MM. (Pengasuh Yayasan Al Madaniyah Tegal).

Sedangkan dihari terakhir para peserta melakukan pelatihan  tentang bimbingan penghayatan makna perjalanan umrah mulai dari keberangkatan sampai dengan kepulangan. Semoga para Pembimbing/Tour Leader dapat memadukan level I dan II sehingga bisa bersikap profesional, bisa mencerahkan, dan bisa memberikan perubahan terhadap sikap mental jamaah umrah ke arah yang lebih baik. Amiin


















Jemaah tua dan berisiko tinggi naik mobil golf di bandara (dok. Media Center Haji)
Siapa Icha? Penasaran? Icha, adalah panggilan untuk petugas haji bernama Risa Ariyani. Sejak kedatangan hingga kepulangan jemaah, waktunya dihabiskan di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Icha spesialisasi jemaah tua dan berisiko tinggi.

Bersama rekan duetnya, Elis, Icha biasa mengurus jemaah haji tua dengan berbagai kondisi. Begitu melihat jemaah tua, keduanya akan sigap membantu, seperti menggantikan baju, mengganti pampers, memandikan, membersihkan kotoran di tubuh jemaah dan sebagainya. Icha dan Elis dengan sabar dan senyum menghadapi jemaah.
"Saya nggak pernah berpikir macam-macam, pokoknya membantu. Pengalaman tugas ini tidak akan terlupakan," kata Icha menceritakan suka dukanya sebagai petugas haji.

Meski tidak menuntut balas, ternyata banyak jemaah yang teringat akan dedikasinya. Icha bercerita, beberapa hari sebelum berakhirnya operasional haji, ia membantu jemaah packing untuk menghadapi sweeping oleh petugas maskapai Garuda Indonesia.

"Saya lihat ada ibu-ibu sedang tiduran, kakinya dinaikkan dan disandarkan ke kursi rodanya. Suaranya lirih manggil-manggil mbak... mbak...," tutur Icha.

Icha kemudian didatangi anak si ibu yang mendampingi selama di tanah suci. "Dia tanya, mbak masih ingat nggak, ibu saya panggil-panggil mbak," kata Icha yang kemudian mendatangi si Ibu.

Begitu bertemu muka, si ibu dengan susah payah mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya karena pernah memandikannya saat baru tiba di bandara dan membantunya memakaikan baju ihram.

"Ibu itu lalu bilang, 'mana ada yang mau mandiin saya'," kata Icha. Sang anak lalu bercerita, bahwa ibunya selalu terkenang dedikasi petugas yang memandikannya. Bahkan, pengalaman itu ia ceritakan ke setiap jemaah yang ditemuinya selama beribadah haji. "Katanya, nggak menyangka ada petugas yang mau memandikannya. Kata anaknya, si ibu selalu berdoa supaya ketemu saya lagi sebelum pulang. Mau nyium. Doanya kesampaian," kata Icha yang sempat ditugaskan di tempat lain sebelum kembali ke bandara. Icha sendiri terenyuh dengan perlakuan jemaah itu terhadapnya.

Pengalaman lainnya yang kerap membuat ia terenyum sendiri jika mengingatnya adalah melayani jemaah yang tidak bisa berbahasa Indonesia. "Setengah mati kadang mikir apa yang diomongin jemaah. Biasanya jemaah asal Aceh atau Lombok. Kalau jemaah Ujung Pandang lain lagi, nggak mau ganti baju di kamar mandi, kekeuh di tempat tunggu yang terbuka," kata dia.

Petugas lain, Junaedi Hasan Yusuf, punya pengalaman lain dengan jemaah. Kebetulan dia ditempatkan di bagian katering. Tapi saat kepulangan ia sering dimarahi dan dikomplain jemaah yang tidak diajak city tour di Jeddah.

"Begitu datang, jemaah marah-marah, kok nggak diajak ziarah dan sebagainya," kata dia.

Terkait tugasnya sendiri di bagian katering, menurut Junaedi, secara keseluruhan berjalan lancar, hanya sesekali saja katering terlambat atau nasinya kurang, sehingga membuat jemaah resah. "Kalau sudah begini kita kalang kabut," kata dia. (Viva.co.id)

Inilah bukti kesempurnaan islam, agama manakah selain islam yang mempunyai kiblat dalam beribadah ???. Mereka tidak mempunyai kiblat, baik kiblat ibadah, kiblat suri tauladan, kiblat ajaran dan hukum dll, maka pantaslah mereka menjadi umat yang kebingungan.
Ada beberapa kalangan di luar Islam yang mereka tidak faham, tidak mengerti tentang Islam, mereka berkata : “Lihatlah orang-orang Islam, mereka menyembah ka’bah !”

Hadits Umar bin Khathab Mengenai batu hitam, hajar aswad

Umar bin Khathab berkata, “Aku tahu bahwa engkau hanyalah sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari)

Ka’bah hanyalah benda mati, ia hanya dijadikan oleh Allah Jalla wa ‘Ala sebagai kiblat umat muslim dalam ibadah khususnya sholat dan haji.Perkataan atau ucapan mereka ini didasari atas mereka melihat kaum muslimin ketika sholat menghadap ke arah ka’bah, lalu mereka berkesimpulan : orang Islam menyembah ka’bah.

Terhadap ucapan jelek mereka ini kita jawab : Sesungguhnya orang-orang Islam hanya menjadikan Ka’bah sebagai arah hadap dalam menyembah Allah, bukan menyembah ka’bah. Sebagaimana firman Allah Subhanallah Ta’ala :

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ

“Hendaklah mereka menyembah kepada Tuhan, Allah ta’ala, Tuhan Yang memiliki Rumah ini, Yang memiliki Ka’bah.”

(Kitab Suci Alqur’an. Quraisy : 3)

Ayat diatas bermakna dan mempunyai pengertian bahwa baitullah (ka’bah) adalah benda milik Allah Subhanallah Ta’ala, dan Allah Ta’ala memerintahkan untuk menyembah pemilik ka’bah !!

Ka’bah sendiri berarti kubus persegi empat yang dalamnya kosong, tidak ada apa-apanya. Adapun Hajar Aswad ada di pojokan luar ka’bah, bukan ditengah-tengah ka’bah. Kemudian fungsi Ka’bah hanyalah sebagai arah hadap, karena Qiblat artinya arah hadap

Dapat dibayangkan andaikata umat Islam tidak punya arah qiblat, maka bagaimana sholat jama’ah mereka ? Imamnya ingin ke utara, makmumnya mungkin ada yang ingin ke selatan, ada yang ingin ke barat, bisa berantakan sholat jama’ahnya. Supaya orang Islam berada di dalam satu kesatuan dengan persatuan yang kuat ketika mereka menyembah Allah Subhanallah Ta’ala, maka Allah Subhanallah Ta’ala menetapkan arah qiblat. Dan ini bukan berarti orang Islam menyembah Ka’bah. Walaupun mereka menghadap ka’bah tetapi ini bukan berarti orang Islam menyembah ka’bah. Kenapa ? Karena orang Islam hanya menjadikan ka’bah sebagai pematok arah. Karena yang namanya pematok arah tidak akan sempurna kalau tidak terlihat. Maka dibangunlah oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il ka’bah sebagai pematok arah supaya orang melihat : ke arah sana, ke arah ka’bah hendaknya kaum muslimin seluruh dunia menyatukan arah.

Maka kaum muslimin diperintahkan menghadap ke arah yang sama dengan satu patok yang sama, yaitu ka’bah. Bukti kalau orang Islam tidak menyembah ka’bah yaitu sebelum orang Islam menyembah Allah Subhanallah Ta’ala dengan menghadap ke arah ka’bah, lebih dahulu Allah Subhanallah Ta’ala memerintahkan mereka menghadap ke arah Baitul Maqdis. Jadi kita, pada awal-awal Islam, kita diperintahkan menyembah Allah Subhanallah Ta’ala dengan menghadap kearah Baitul Maqdis yang ada di Palestina. Ini pada awal-awal Islam. Sampai kemudian turun ayat akibat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dicemooh oleh orang-orang Yahudi : Lihatlah orang-orang Islam, mereka mengikuti qiblat kami !” kata orang-orang Yahudi. Ini membuat Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam selalu meminta kepada Alloh berkali-kali : Ya Allah, Ya Allah. Meminta agar dipalingkan, dikembalikan qiblatnya, arah hadapnya ke Baitulloh, ke Ka’bah, ke Masjidil-Haram.

Andaikata orang Islam, Rasululloh dan kaum muslimin menyembah ka’bah, tidak perlu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam minta ijin meminta kepada Alloh, bahkan berkali-kali agar dapat dihadapkan kembali ke MasjidilHaram, sebagaimana pada zaman Nabi Ibrohim dan Nabi Isma’il ‘alaihimas-salaam. Sampai akhirnya Allah Subhanallah Ta’ala turunkan ayat :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِيالسَّمَاءِ

“Kami sering melihatmu, kata Allah Subhanallah Ta’ala : Kami sering melihatmu membolak-balikkan wajahmu ke langit, ” Apa artinya ? Kami sering melihatmu hai Muhammad – shollallohu ‘alaihi wa sallam – membolak-balikkan wajahmu ke langit,yaitu memohon kepada Allah. Ini, Rasul harus memohon berkali-kali agar bisa dihadapkan kembali ke MasjidilHaram. Andaikata Rasul menyembah ka’bah, orang Islam menyembah ka’bah, tidak perlu memohon kepada Allah Subhanallah Ta’ala agar dipindahkan arah qiblatnya ke Baitullah.

فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Maka sekarang hadapkanlah wajahmu ke arah mana, qiblat mana yang kamu ridhoi.”

Allah kabulkan permohonan Nabi setelah Nabi berulang-ulang memohon kepada Allah

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِالْحَرَامِ

“Maka sekarang hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Allah Subhanallah Ta’ala memerintahkan kaum muslim untuk menghadapkan diri dalam beribadah kearah Masjidil Haram, dan Ingat bahwa Allah tidak pernah menyuruh umatnya untuk menyembah Ka’bah, hanya menghadap. Hadapkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. Jadi terbukti bahwa Ka’bah hanya sebagai arah hadap kaum muslim untuk menyembah Allah Subhanallah Ta’ala. Bukti lain bahwa Ka’bah hanya sebagai arah hadap kaum muslim dalam beribadah ialah bahwa Rasulullah SAW dan para sahabatnya pernah melakukan ibadah sholat didalam Ka’bah.

Dicontohkan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam : Rasul masuk ke dalam Ka’bah, lalu menjadikan pintu Ka’bah di belakang punggungnya, yang artinya, berarti Hajar Aswad ada pula di belakang sebelah kiri beliau. Lalu beliau sholat di dalam Ka’bah dengan menghadap ke arah mana beliau menghadap, yaitu ke arah depan, yaitu sejarak 3 hasta dari depan, 3 hasta dari tembok depan, kemudian Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam berhenti dan sholat di situ. Demikian pula para shahabat Nabi, mereka sholat di beberapa pojokan-pojokan Ka’bah. Dan ini tidak menjadi masalah. Ke arah mana pun mereka menghadap ketika mereka di dalam Ka’bah, mereka ada di arah qiblat. Sehingga ke mana pun mereka menghadap, tidak masalah.

Ka’bah adalah ruang kosong, sehingga sholat didalam Ka’bah berarti ia sholat persis di arah Ka’bah, atau di arah qiblat. Ini menjadi dalil bahwasannya kaum muslimin tidakmenyembah Ka’bah, karena boleh saja orang Islam sholat di dalam Ka’bah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi dan shahabatnya.

Andaikata kita, Nabi, Kaum Muslimin menyembah Ka’bah, tidak boleh mereka sholat di dalam Ka’bah.

Begitu pula Rasulullah SAW melarang para shahabat Nabi bersumpah dengan mengatakan : WAL-KA’BAH “Demi Ka’bah.” Rasul melarang. Rasul mengganti dengan WA ROBBIL-KA’BAH “Demi Tuhan Yang memiliki Ka’bah !” Karena tidak boleh bersumpah dengan selain nama Allah Subhanallah Ta’ala.

Ka’bah adalah qiblat, yaitu arah kaum muslimin menghadap dalam shalat mereka. Perlu dicatat bahwa walaupun kaum muslimin menghadap Ka’bah dalam sholat, mereka tidak menyembah Ka’bah. Kaum muslimin hanya menyembah dan bersujud kepada Allah. Ketika mereka melakukan thawaf di Ka’bah atau mencium Hajar Aswad, itu semua dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Allah-lah yang memerintahkan kami kaum muslim untuk menyembah-Nya dengan cara seperti itu.

Islam menghendaki persatuan


Ketika kaum muslimin hendak menunaikan sholat, bisa jadi ada sebagian orang yang ingin menghadap ke utara, sedangkan yang lainnya ingin menghadap ke selatan.Untuk menyatukan kaum muslimin dalam beribadah kepada Allah maka kaum muslimin dimana pun berada diperintahkan hanya menghadap ke satu arah, yaitu Ka’bah. Kaum muslimin yang tinggal di sebelah barat Ka’bah, mereka sholat menghadap timur. Begitu pula yang tinggal di sebelah timur Ka’bah, mereka menghadap barat.

Ka’bah adalah pusat peta dunia

Kaum muslimin adalah umat pertama yang menggambar peta dunia. Mereka menggambar peta dengan selatan menunjuk ke atas dan utara ke bawah. Ka’bah berada di pusatnya. Kemudian, para kartografer Barat membuat peta terbalik dengan utara menghadap ke atas dan selatan ke bawah. Meski begitu, alhamdulillah, Ka’bah terletak di tengah-tengah peta.

Tawaf keliling Ka’bah untuk menunjukkan keesaan Allah

Ketika kaum muslimin pergi ke Masjidil Haram di Mekah, mereka melakukan tawaf atau berkeliling Ka’bah. Perbuatan ini melambangkan keimanan dan peribadahan kepada satu Tuhan. Sama persis dengan lingkaran yang hanya punya satu pusat maka hanya Allah saja yang berhak disembah.

Orang berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan azan Pada zaman Nabi


orang bahkan berdiri di atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Bisa ditanyakan kepada mereka yang menuduh kaum muslimin menyembah Ka’bah; penyembah berhala mana yang berdiri di atas berhala sesembahannya?

Berikut hadis pendukung bahwa Ka’bah hanya berfungsi sebagai arah kiblat dan pemersatu umat Islam :


Al-Barra’ mengatakan bahwa ketika Nabi SAW. pertama kali tiba di Madinah, beliau singgah pada kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari kaum Anshar. Beliau melakukan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan. Tetapi, beliau senang kalau kiblatnya menghadap ke Baitullah. (Dan dalam satu riwayat disebutkan: dan beliau ingin menghadap ke Ka’bah 1/104).

Shalat yang pertama kali beliau lakukan ialah shalat ashar, dan orang-orang pun mengikuti shalat beliau. Maka, keluarlah seorang laki-laki yang telah selesai shalat bersama beliau, lalu melewati orang-orang di masjid [dari kalangan Anshar masih shalat ashar dengan menghadap Baitul Maqdis] dan ketika itu mereka sedang ruku. Lalu laki-laki itu berkata, “Aku bersaksi demi Allah, sesungguhnya aku telah selesai melakukan shalat bersama Rasulullah saw dengan menghadap ke Mekah.”

Maka, berputarlah mereka sebagaimana adanya itu menghadap ke arah Baitullah [sambil ruku 8/134], [sehingga mereka semua menghadap ke arah Baitullah]. Orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab suka kalau Rasulullah saw. Shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Maka, ketika beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mereka mengingkari hal itu, [lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 144 surat al-Baqarah, "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit."

Lalu, beliau menghadap ke arah Ka'bah. Maka, berkatalah orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang Yahudi, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus." 7/104]. [Dan orang-orang yang telah meninggal dunia dan terbunuh dengan masih menghadap kiblat sebelum dipindahkannya kiblat itu, maka kami tidak tahu apa yang harus kami katakan tentang mereka, lalu Allah menurunkan ayat, "Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" (Surat al-Baqarah - 143)].

Abdullah bin Umar berkata, “Pada waktu orang-orang sedang melakukan shalat subuh di Quba’, tiba-tiba mereka didatangi seseorang (untuk menyampaikan berita). Orang itu berkata, ‘Sesungguhnya, malam tadi telah diturunkan kepada Rasulullah saw. Al-Qur’an (yakni wahyu). Beliau diperintahkan shalat menghadap ke Kabah. [Maka ingatlah, menghadaplah kalian ke Kabah! 5/152].’ Mereka lalu menghadap ke Ka’bah, padahal waktu itu wajah mereka sedang menghadap ke Syam. Mereka lalu menghadapkan wajahnya ke Ka’bah.

Akhir kata, semoga Tulisan dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan Insya allah semakin menambah tingkat iman dan taqwa kita hanya kepada Allah Subhanallah Ta’ala. Amin Ya Robbal Alamin.

(nwr/pembongkaran)
Sumber : Nabawia.com
Foto: republika.co.id
Ia memberikan seluruh uangnya untuk naik haji guna memberi makan anak yatim.
Setiap orang yang ingin menunaikan rukun Islam kelima, pastilah ia pergi ke Makkah dan Madinah untuk melakukan rukun-rukun haji.

Namun, ada satu kisah yang menjadi pengecualian. Satu orang ini telah ditulis oleh malaikat akan ibadah hajinya, padahal ia belum menjejakkan kakinya di Tanah Haram.

Saat itu seorang tabiin bernama Abdullah bin Mubarak sedang pergi haji. Tak sengaja, ia tertidur di Masjidil Haram. Dalam tidurnya, ia bermimpi mendengar dua orang malaikat yang sedang bercakap-cakap.

“Berapa banyak umat Islam yang berhaji di tahun ini?” tanya sang malaikat kepada malaikat yang satunya. “Enam ratus ribu orang, tapi tidak ada satu pun yang diterima. Hanya ada satu orang tukang sepatu bernama Muwaffaq dari Damsyik yang tak bisa berangkat haji, namun malah diterima. Karena sang tukang sepatu tersebut, semua yang haji pada tahun ini bisa diterima,” ujar sang malaikat satunya.

Dengan segera Abdullah bangun dari tidurnya. Ia tak percaya dengan apa yang didengar dalam mimpinya tersebut.

Namun, untuk menjawab rasa penasarannya, sepulangnya dari perjalanan haji, ia datang ke Damsyik dan mencari tukang sepatu tersebut.

Akhirnya sampailah ia ke Damsyik dan bisa menemukan rumah orang bernama Muwaffaq. Ia pun yakin mimpinya tadi bukan sembarang mimpi, namun merupakan sebuah petunjuk dari Allah SWT.

Ia berhasil menemui Muwaffaq. Ia pun masuk ke rumahnya dan dimulailah pembicaraan untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya.

Mengapa seseorang yang tidak berangkat haji namun dihitung amal ibadahnya telah naik haji?  “Kebaikan apa yang telah Kau lakukan hingga kau bisa tercatat telah berhaji, padahal kau tidak pergi?” tanyanya.

Tukang sepatu pun menjawab. Ia bercerita sebenarnya sudah berniat untuk pergi berhaji. “Melihat kondisi ekonomiku yang sederhana ini, sangat mustahil untuk mengumpulkan uang yang dipakai bekal berhaji. Namun, atas pertolongan Allah, aku tiba-tiba diberikan rezeki sebesar 300 dirham atas jasaku menambal sepatu seseorang,” kata Muwaffaq mulai bercerita.

Dengan sejumlah uang tersebut, Muwaffaq berniat untuk pergi haji. Dengan uang yang didapatnya tersebut, ia merasa dirinya mampu berangkat haji. Hal ini pun mendapatkan persetujuan istrinya yang sedang hamil.

Sebelum niat itu terlaksana, suatu hari istri Muwaffaq mencium bau masakan dari rumah sebelah. Karena sedang hamil, ia merasa sangat menginginkan masakan yang dipikirnya pasti sangat lezat tersebut.

Muwaffaq pun pergi ke rumah tetangganya, dengan maksud meminta sedikit makanan yang baunya tercium oleh istrinya tersebut. Karena alasan istrinya sedang hamil, Muwaffaq pun yakin tetangganya pasti akan berbaik hati membagi makanan tersebut.

Saat memasuki rumah tetangganya itu, ia terkejut ternyata sang tetangga tak mau memberikan masakannya sedikit pun meski ia mengatakan yang menginginkannya adalah istrinya yang sedang hamil.

Tetangganya kemudian dengan lembut mengatakan alasan. “Aku sebenarnya tak mau membuka rahasiaku ini, sebenarnya rumah ini dihuni olehku dan anak-anak yatim yang telah tiga hari tak makan karena memang kami tak punya apa pun untuk dimakan,” ujarnya bercerita.

“Kemudian, aku keluar rumah untuk mencari apa pun yang bisa kami makan, hingga tiba-tiba saat berada di jalanan, aku menemukan bangkai kuda. Bangkai itulah yang aku potong kemudian aku bawa pulang dan kumasak hingga aromanya sampai tercium oleh istrimu,'' ujar tetangganya.

Sang tetangga menambahkan, ''Maafkan aku, bagi kami masakan bangkai kuda ini halal karena memang tidak ada pilihan lain, tapi bagimu masakan ini haram untuk kau makan,” katanya menjelaskan.

Muwaffaq pun kemudian kembali ke rumah dan menjelaskan hal tersebut kepada istrinya. Ia kemudian mengambil uang 300 dirham simpanannya untuk diberikan kepada tetangganya tersebut agar bisa dibelanjakan bagi anak-anak yatim di sana. “Hajiku ada di pintu rumahku,” ujarnya.

Abdullah bin Mubarak pun tercengang mendengar kisah ini. Ia tak menyangka amal ibadah sang tukang sepatu itu sangat besar.

Selama ini, ia menganggap ia yang kaya raya ini sangat dermawan, namun ternyata di hadapannya kini duduk orang yang jauh lebih dermawan dan tulus darinya.

Dalam surah al-Baqarah ayat 220 disebutkan, “Dan mereka bertanya kepadamu mengenai anak-anak yatim. Katakanlah, ‘Memperbaiki keadaan anak-anak yatim itu amat baik bagimu.”

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang maka untuk setiap helai rambut yang disentuhnya akan memperoleh satu pahala dan barang siapa berbuat baik terhadap anak yatim, ia akan bersamaku di Jannah.” (rol/ds/nabawia.com)

oleh: Rosita Budi Suryaningsih
LABAIKALLAHUMMA LABAIK, LABAIKKALA SYARIKA LAKA LABAIK, INNALHAMDA WANNI’MATA LAKA WALMULK LAA SYARIKA LAKA (Kami penuhi panggilanMu ya Alllah, Kami penuhi Panggilanmu, tidak ada sekutu bagiMu, Sungguh segala puji dan ni’mat serta kekuasaan hanya milikMu dan tidak ada sekutu bagiMu)

Kalimat Talbiyah inilah yang sering di dengungkan oleh Jamaah Haji PT. Sahara Kafila Wisata, semenjak keberangkatan dari Hotel Pop dan Hotel Ibis pada tgl 25 Sept 2014, sebagai wujud kepasrahan dan kesadaran spiritual, bahwa kita bisa menunaikan ibadah haji tahun ini semata-mata hanya panggilan Allah SWT, bukan karena harta yang kita miliki, jabatan atau status soai lainnya.
Pemahaman yang mendalam akan makna talbiyah dapat berdampak positif pada perjalanan haji seseorang, jamaah akan merasakan kemudahan yang luar biasa dan Insya Allah akan membawa pada haji Mabrur. Pemahaman akan makna talbiyah ini yang sering kita kaji dalam pengajian-pengajian menjelang pelaksanaan ibadah haji selama  jamaah berada di rumah transit dari Tgl 26 Sep s/d 1 Okt 2014 oleh para pembimbing ibadah haji PT. Sahara Kafila Wisata



Jamaah haji Sahara Kafila , memulai ritual haji dengan melakukan Tarwiyah pada tgl 8 Dzulhijjah 1435 H, menuju Mina untuk banyak berzikir dan berdoa sesuai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW . Pada tengah malam bergerak menuju Arofah untuk persiapan Wukuf yang pada Tahun ini bertepatan dengan hari Jum’at, dalam salah satu riwayat menyatakan bahwa bila wukuf terjadi pada hari jum’at maka haji tersebut di namai haji Akbar yang pahalanya setara dengan 70 kali haji biasa.  Dari Tholhah Ibnu Abdullah Ibnu Kuraidz : Sesungguhnya Rosulullah SAW bersabda : Sebaik-baik hari  adalah hari Arafah yang bertepatan dengan hari jum’at,  memiliki keutamaan sebanding dengan 70 kali haji yang wukufnya bukan di hari jum’at (HR. Radzin). Pelaksanaan wukufpun berjalan dengan penuh kekhusyuan, jamaah banyak diajak untuk bermuhasabah baik secara berjamaah atau sendiri-sendiri.

Usai melaksanakan wukuf, kami bergerak menuju Mudzdhalifah untuk mabit dan mencari batu kerikil, sambil diiringi talbiyah Bis yang membawa kami bergerak menuju ke arafah pada pukul 20.00, usai makan malam. Tiba di Mudzdalifah pukul 24.00, kemudian Mabit sampai pukul 01.30 untuk terus kami menuju ke Haram berencana melakukan Thawaf Ifadho terlebih dahulu. Tetapi kepadatan lalu litas yang luar biasa memaksa kami  kembali ke Mina untuk melontar Jumrah Aqobah dan Mabit di Mina sampai dengan Tgl 12 Dzulhijjah atau Nafar Awal. Di Mina Jamaah melontar Jamarat bersama dengan jamaah haji  lainnya yang tahun ini jumlah jamaah haji diperkirakan berjumlah kurang lebih 6 Juta orang. Usai mabit di Mina kami kembali ke rumah transit guna persiapan Thawaf Ifadho dan berangkat menuju ziarah Madinah. Demikian perjalanan Jamaah Haji PT. Sahara Kafila Wisata yang telah kembali ke Tanah Air dengan selamat pada tgl 23 Okt 2014, semoga menjadi Haji Mabrur. Amien Ya Mujibassailin










Jamaah haji yang berada di Madinah, biasanya akan menyempatkan berdoa di Raudhah, bilik kecil di samping makam Rasulullah SAW.
Perjuangan untuk berada di Raudah tidak ringan. Pasalnya, jamaah yang jumlahnya ratusan ribu akan memperebutkan tempat tersebut. Jadi, untuk mencapai tempat yang dicirikan dengan karpet warna beda di Masjid Nabawi ini, memang sedikit ‘penuh perjuangan’.
 
Syaifullah Hadmar, seorang jamaah, mendapat kesempatan itu secara tak terduga. Sungguh suatu keberuntungan karena setelah berjamaah shalat Maghrib, ia tidak langsung pulang melainkan menunggu datangnya waktu Isya.
 
Saat menunggu datangnya Isya ini, ia berbaur dengan jamaah asal India, menuju Raudhah. Letak Raudah adalah sebelah kiri dari panggung kecil yang biasa dipakai muadzin mengumandangkan adzan. Ia terus berjalan, hingga tak sadar kakinya sampai di alat karpet berwarna beda. “Ini sudah masuk di area Raudah,” kata Ustaz Helmi dari Kementerian Agama, mengingatkannya.
 
“Betapa bangga dan leganya,” kata Syaifullah. “Karena Allah telah memberikan kemudahan mengantar sampai tempat yang mustajab.” 
 
Sebab, untuk mencapai tempat tersebut memerlukan tenaga dan fisik yang prima. Namun, ada hal yang lebih penting lagi dan perlu diperhatikan yakni kekuatan tekad untuk mendatangi dan keikhlasan hati dalam melangkah menuju Raudhah.
 
Dalam Raudhah sambil menunggu shalat Isya, ia membaca Alquran. Seorang jamah lain membisikinya, “Lakukan shalat sunah dan berdoalah supaya dikuatkan iman dan Islam, serta mohon ampun dan hajat lainnya.” Ia mengikuti.
 
Seorang mukinin asal Madura bernama Amin menyatakan, rugi besar jika sudah sampai di Masjid Nabawi tidak berusaha mendatangi Raudhah sebagai tempat yang mustajab untuk berdoa. Jutaan jamaah, kata Amin, terus merebutkan tempat tersebut. Bahkan, jamaah asal Malaysia siap memberikan bayaran kalau ada yang bisa membantu mendapatkan tempat di Raudhah.
 
Amin berbagi kiat menjangkau Raudhah. Caranya, kalau sudah berada di dalam masjid jam berapa pun jangan tergoda dengan rasa ingin pulang.
 
Selain itu, lanjutnya, jika sudah sampai dalam masjid, masuk terus ke dalam dan mengambil posisi yang dekat dengan tempat tujuan. Dengan demikian, bila ada kesempatan bergeser, tidak akan mengalami kesulitan. “Ingat, niatkan hati dengan sungguh-sungguh dan terus berdoa, Insya Allah akan diberi kemudahan meski berdesak-desakan,” tutur Amin.
 
Upaya lainnya adalah usahakan datang ke masjid pada awal pintu masjid dibuka. Dengan demikian mempunyai waktu cukup untuk melaksanakan shalat Tahajud, shalat Tasbih, dan shalat Fajar serta melakukan zikir atau membaca Alquran.
 
Raudah ini adalah bekas masjid Rasullah dan berada di samping makam Rasullah, Abu Bakar as-Shiddiq, dan Umar bin Khatab. Pada pukul 09.00 waktu setempat sampai dengan 30 menit sebelum waktu Zhuhur, Raudhah dikhususkan untuk kaum perempuan.
 
Karena itu, jamaah perempuan yang ingin mendapatkan tempat ini agar sejak pagi hari mencari tempat di dekat Raudah. Jadi, akan memudahkan untuk mencapai Raudhah ketika penyekatnya dibuka. (rol/nabawia.com)

Pemegang kunci Ka’bah, Syaikh Abdul Qadir Thaha Asy-Syaibi (74 tahun), meninggal dunia hari Kamis (23/10/2014) kemarin. Beliau meninggal setelah berjuang selama lima bulan melawan penyakit kanker.

Syaikh Abdul Qadir menerima tugas sebagai pemegang kunci Ka’bah pada bulan November 2010, menggantikan pendahulunya, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah As-Syaibi.

Dalam istilah Islam, pemegang kunci Ka’bah dinamakan Sadin. Dialah penanggung jawab utama dalam segala hal yang terkait dengan Ka’bah. Mulai dari membuka-menutupnya, mengizinkan masuk orang-orang tertentu, mengganti kiswah (penutup) Ka’abh, memberi wangi-wangian, dan sebagainya.

Tugas memegang kunci Ka’bah ini memang menjadi hak keluarga besar Asy-Syaibi sejak zaman Rasulullah saw. Beliaulah yang menugaskan hal tersebut saat menaklukkan kota Makkah. Tugas ini, menurut Rasulllah saw., akan mereka pegang hingga Hari Kiamat. (msa/dakwatuna)